Kehadiranmu
Kulihat sepasang kekasih itu dengan tatapan
sedih. Hatiku sakit mengetahui fakta bahwa aku hanya di manfaatkan untuk mendapatkan
seseorang. Mataku dan mata mantan kekasihku bertemu, segera aku berbalik badan.
“Citra..” panggil seseorang. Aku menggigit bibir bawahku, kemudian berbalik
kembali. “Hai Tika..” jawabku. Aku menampilkan senyum palsuku, bersikap tidak
terjadi apa-apa. “Kemarilah.. kelas belum dimulai kan?” kata Tika. Tika
menghampiriku lalu menarik tanganku untuk mengikutinya menuju kursi panjang
taman kampus. Aku duduk di samping Tika, “Citra kenalkan ini kekasihku..” kata Tika.
‘aku mengenalnya Tik’ kataku dalam hati. “ah iya Citra” kataku mengulurkan
tangan. Dia menyambut tanganku, “Reno..” katanya. Ya Tuhan rasanya aku ingin
menangis sekarang. Aku menarik tanganku kemudian bangkit dari kursi taman, “ah
benar, aku harus mengumpulkan laporan penelitianku minggu kemarin” kataku.
‘tidak itu bohong. Tidak ada laporan Citra bodoh’ batinku. “ah begitu.. kalau
begitu kumpulkan, pasti sibuk sekali di jurusan kedokteran” kata Tika, terlihat
sekali dia kecewa. “Eyyy.. kita bisa menghabiskan waktu hari sabtu ini” kataku
memukul pelan bahunya. “ah tapi.. hari sabtu aku ada rencana pergi dengan Reno,
maaf.. ” kata Tika menyesal. Aku kembali menampilkan senyum palsuku, “ah Tidak
apa Tik, kita masih ada hari sabtu lainnya.. kalau begitu aku pergi dulu ya,
Tika, Reno” kataku dan melambaikan tangan. Aku sedikit berlari kecil, tujuanku sekarang
adalah toilet.
“Hiks.. Dasar bodoh..”
Sekitar 15 menit aku menangis, kemudian aku kembali
menata penampilanku sebelum aku berjalan keluar dari toilet. “oh Citra..” panggil
seseorang, kemudian aku berbalik karena merasa di panggil. “oh Heru… ada apa?” tanyaku.
Tidak biasanya seorang Heru mengeluarkan suara. “kamu di cari kak Galih..” kata
Heru, “Galih? Galih siapa?” tanyaku, siapa itu Galih?aku tidak mengenalnya. “Kakak
tingkat dari jurusan Manajemen Bisnis.. sudah ya, kamu ditunggu di
perpustakaan” kata Heru lalu berjalan melewatiku. “eh tu-tunggu dulu.. Heru! Heru!
Hei..” kataku. “masalahnya perpustakaan mana?setiap fakultas kan ada
perpustakaan” gumamku. Kemudian aku mengangkat bahuku, lalu kembali berjalan
sambil memikirkan perpustakaan yang mana yang akan aku masuki terlebih dahulu, “bagaimana
kalau di Fakultas Ekonomi?bukannya tadi Heru bilang kak Galih jurusan Manajemen
Bisnis” kataku lalu melangkah menuju perpustakaan Fakultas Ekonomi.
Mulai dari Fakultas Ekonomi, kemudian ke
Teknik, lalu ke Hukum, dan kemudian kubuka pintu perpustakaan Fakultasku,
Fakultas Kedokteran. Ini perpustakaan keempat yang aku kunjungi. Aku
mengedarkan pandanganku, “sepertinya bukan disini..” kataku,sebelum aku
berbalik. “Citra..” sebuah suara maskulin khas seorang pria memanggilku. Aku
berbalik, Astaga! Tampan sekali cowok ini. “ehm. Kamu memanggilku?” kataku
ragu. “iya.. namaku Galih..” kata pria itu yang mengaku bernama Galih. “ah iya..
ehm ada perlu apa kakak memanggilku? kata Heru, kakak memanggilku” kataku, dia tersenyum.
“aku rasa kita bisa bicara di lain tempat.. disini kurang nyaman” kata kak Galih,
aku menggangguk lalu mengikuti langkahnya keluar perpustakaan.
Kami duduk di salah satu meja kantin dikampus.
Sambil menunggu pesanan, aku kembali bertanya. “jadi… kakak, ada perlu apa?” tanyaku,
dia berdehem. “sebenarnya aku ingin mengatakan perasaan padamu..” kata kak Galih
memandangku dengan matanya yang tajam seperti elang. Aku membuka mulutku tak
percaya, kemudian menggelengkan kepalaku pelan untuk menyadarkanku dari
keterkejutanku. “a-ah maaf kak. Aku kurang mengerti maksud kakak mengatakan
perasaan apa?” tanyaku memastikan. “jadi begini, Cit… aku menyukaimu..” katanya,
seketika aku merasa pusing. Aku memegangi kepalaku dan memejamkan mata, oh
Tuhan ini terlalu cepat. “pesanan anda.. silahkan” kata penjual kantin
mengantarkan pesanan kami. “ah ya terima kasih..” kataku. Aku menyeruput es teh
lemonku, dia masih memandangku seperti menunggu jawabanku. Aku menyelesaikan acara
minumku, lalu aku berdehem. “be-begini kak.. sejujurnya aku belum mengenal kakak
jadi aku-” kataku terpotong, “aaahh aku mengerti. Sejujurnya juga aku tidak
memintamu memberi jawaban sekarang.. aku ingin mengatakan perasaanku saja
terlebih dahulu, jadi.. mmm maksudku kita bisa saling mengenal terlebih dahulu,
aku… aku hanya melihat kamu dari jauh selama ini.. dan bertanya pada beberapa
teman, jadi.. ah kita bisa saling mengenal dulu” kata kak Galih terlihat
sedikit gugup. Aku tersenyum, tapi bukan senyum palsu yang aku tampilkan
seperti tadi. “baiklah.. ayo saling mengenal lebih jauh, kak Galih” kataku
mengulurkan tanganku. Dia tersenyum dan menyambut tanganku, “ayo saling
mengenal.. Citra” katanya.
Aku berjalan menuju gerbang kampus, hari ini
aku hanya ada satu mata kuliah. Disana, aku melihat Tika dan Ratna berada di
gerbang kampus, “Citra...” panggil Ratna, “Hei girls.. sedang apa kalian?” tanyaku, “aku ingin mengajak kalian
berdua shopping tapi Tika malah akan pergi
dengan kekasih barunya.. aku juga ingin mengenal kekasih baru Tika” kata Chorong
merangkulku, “Hei.. pasti kamu akan iri denganku karna kekasihku sangat keren
dibandingkan dengan kak Bayu” kata Bomi, “kak Bayu akan selalu keren di mataku”
kata Ratna menjulurkan lidahnya. Aku tertawa melihat tingkah mereka berdua. “Ah
Reno... disini” kata Tika membuat jantungku kembali berdetak dengan cepat. “eh
mana? Mana?...” kata Ratna. Jantungku semakin cepat berdetaknya, “Hei sayang...”
ah itu suara Reno. Ratna melihat Reno, keduanya tampak terkejut. “KAMU….” kata
Ratna sedikit berteriak, aku meremas tangan Ratna memberi isyarat agar tenang.
“ah maaf.. aku kira kamu seseorang yang aku kenal..” kata Ratna. “ahahaha.. tak
apa.. ah ya aku Reno”kata Reno. Ratna tersenyum, “aku Ratna..” kata Ratna. “ah
iya..” kata Reno, kemudian hening melanda kami. “baiklah.. ayo Ratna kita pergi
shopping, bye Tika, Reno” kataku mendorong-dorong Ratna agar jalan.
Didalam mobil, sepanjang perjalanan Ratna menceramahiku.
“kenapa kamu begitu bodoh Cit? dia Reno kekasihmu kan ah bukan tapi mantan
kekasih.. bagaimana bisa dia berpacaran dengan Tika setelah dia memutuskanmu
secara tak jelas?” kata Ratna tanpa jeda sambil menyetir mobilnya. “aku tidak
tahu Rat..” kataku pelan. “lalu apa Tika tau, siapa kekasihnya itu?” Tanya
Ratna, aku menggeleng. “Tika tak tau..” kataku. Ratna menghela nafas, “kenapa
gak beritahu dia sih Cit? kalau begitu biar aku beritahu kepada Tika” kata
Ratna. “tidak.. nanti Tika kecewa ” kataku. Ratna menghela nafas lagi, lalu
kami tidak membicarakan itu lagi.
Aku berjalan melewati taman kampus, disana
aku melihat Reno dan Tika sedang bermesraan. Sesaat aku berhenti dan melamunkan
diriku jika berada di posisi Tika sekarang. Tiba-tiba pandanganku gelap, ada
kedua tangan yang menghalangiku. “tebak ini siapa?” Tanya sang pemilik tangan,
aku tersenyum. “kak Galih..” kataku, kemudian dia menjauhkan tangannya dan aku
berbalik menghadapnya. “wah tepat sekali, karna kamu menebak dengan benar aku
akan mentraktirmu es krim” kata kak Galih. Aku terkekeh, “bilang saja kamu mau mengajakku
kencan kak..” kataku. “wah ketahuan ya, lain kali kalau aku ingin mengajakmu
kencan, aku katakan saja langsung ya” kata kak Galih tersenyum. Aku tersenyum semakin
lebar, “ayo..” kataku semangat. Aku dan kak Galih berjalan berdampingan.
“bukankah itu Citra?” perkataan Tika membuat
Reno menoleh kearah pandangan Tika dengan cepat. Kemudian Reno mengerutkan
keningnya, Citra dengan Galih dari Manajemen bisnis sedang berjalan berdua.
Sesaat Reno merasa kesal melihat hal itu. “sayang... sayang… SAYANG!” Tika
berteriak menyadarkan Reno. “apa? ah maafkan aku sayang” kata Reno kemudian
tersenyum. Tika mengerucutkan bibirnya, “kamu mengabaikanku..” kata Tika.
“jangan memajukan bibirmu kalau tidak mau malu karna aku cium” kata Reno. Tika
tersipu malu ketika mendengarnya, “ish kau ini..” kata Tika memukul pelan
lengan Reno. Reno tersenyum, kemudian kembali melamun.
“Terima kasih atas traktiran es krimnya...” kataku
sedikit membungkuk, “sama-sama.. lain kali makan malam ya” kata kak Galih lalu
tersenyum. “terserah kakak saja” kataku, kami kemudian saling diam. Kak Galih
tidak beranjak dari tempatnya berdiri, di depanku, tidak juga berbicara sepatah
kata pun. “kalau begitu aku masuk dulu ya kak, sampai jumpa” kataku, kemudian aku
berbalik. Tapi sebuah tangan menggenggam tanganku, seketika jantungku berdetak
cepat dan semakin cepat ketika kak Galih membawaku ke dalam pelukannya. Tanpa
berkata apa-apa dia mencium keningku, aku hanya dapat memejamkan mataku. Ketika
kak Galih sedikit menjauh, kemudian dia mengelus rambutku. “jika kamu sedih
ingatlah ada aku untuk berbagi.. sekarang masuklah hari sudah sore” kata kak Galih,
aku tersenyum canggung. “terima kasih...” kataku, kemudian dengan cepat aku mencium
pipinya. Dia terdiam karna ciumanku yang tiba-tiba, tanpa pikir panjang aku berbalik
dan sedikit berlari memasuki perkarangan rumah dan membuka pintu rumah. “sampai
jumpa...” kataku dan menutup pintu, aku mengintip kak Galih lewat kaca jendela.
Ku lihat dia tersenyum dan mengelus pipinya, lalu aku tersenyum melihatnya yang
berjalan sedikit oleng ke dalam mobilnya. “kakak kamu sedang apa?” sebuah suara
di belakangku membuatku sedikit kaget. “ anak kecil tidak perlu tau..” kataku,
adikku yang bernama Fira mengangkat bahunya, kemudian memasuki ruang tv dengan
mengunyah apel. Aku menaiki tangga menuju kamarku.
Aku dan keluargaku sedang makan malam di meja
makan, tiba-tiba bel rumah berbunyi. “Fira... tolong, lihat siapa yang menekan
bel pintu rumah?” kata ibu, “Biar kak Citra saja bu” kata Fira dan memakan
makanannya, aku mencibir melihat adikku yang memang pemalas ini. Aku bangkit
dari kursi, kemudian menuju pintu rumah. Ketika aku membuka pintu rumah, betapa
kagetnya aku pada orang yang bertamu. “Hai Cit..” kata tamu itu yang adalah Reno.
Aku menatapnya datar, “mau apa?” tanyaku to
the point. Dia tersenyum, senyuman yang dulu dapat membuatku luluh atau
masih sama sampai sekarang. “aku hanya mampir untuk bertamu, kebetulan aku
lewat daerah sini” kata Reno menjelaskan kehadirannya. “Citra, kenapa kamu lama
sekali? oh Reno...” kata ibuku senang.
Aku langsung menuju meja makan dan mengabaikan panggilan ibuku karna
meninggalkan tamu tanpa mempersilahkan untuk masuk. Ayah melihatku seakan mengatakan
‘siapa yang bertamu?’, namun aku tidak menjawab dan duduk di kursiku.
Aku memandang kesal kepada ibu yang
membiarkan Reno makan malam bersama. Tidak hentinya ibu menebar senyum bahkan
sesekali tertawa ketika Reno menjawab pertanyaannya atau mengajak ibu bercanda.
Kembali, bel pintu rumah kembali di tekan, aku mendengus ‘siapa lagi ini hah? Tika?’
batinku. Kini Fira lah yang membukakan pintu, dan entah kenapa lama sekali. “ibu…
pangeran Fira datang” kata Fira, adikku memang sedikit genit padahal dia masih
di sekolah dasar. Tapi aku lebih kaget melihat siapa yang bertamu kali ini,
mungkin Reno lebih kaget. “kak Galih..” kataku, kak Galih tersenyum. Iya, yang
bertamu kak Galih. Kebetulan sekali bukan?. “siapa?”Tanya ibu, dia memandang kak
Galih dengan tatapan kagum. “ ah iya.. selamat malam, saya Galih”kata kak Galih.
“siapanya Citra?”Tanya ayah. “dia temanku ayah”kataku, kemudian ayah menganggukan
kepalanya.
Jadi, aku duduk di antara kak Galih dan Reno
di meja makan. Ibu tidak keberatan sama sekali, ibu menganggap mereka berdua
seperti orang yang sudah lama ia kenal.
Reno pulang terlebih dahulu dengan alasan
harus cepat pulang karena ada urusan. ‘kalau cepat pulang, kenapa mampir
kemari?’ batinku. Aku mengantarkan kak Galih sampai menuju pagar rumah, “ah
iya.. sebenarnya aku ingin mengembalikan gelangmu ini yg terjatuh di mobil” kata
kak Galih, aku memperhatikan lengan kiriku, ‘ah ya gelang keberuntunganku’ batinku.
Aku meraihnya, “terima kasih kak..” kataku dan memakainya. Kak Galih langsung
pamit pulang.
Esok paginya, ini adalah hari minggu. Hari
libur kuliah, aku sudah terbangun dari jam 6 pagi hari. Sebenarnya tidak
biasanya aku bangun secepat ini, namun karna Reno datang kerumah dan mengajakku
lari pagi, itulah sebabnya aku sudah bangun. Kami sedang lari pagi disekitar
rumahku, Reno mengajakku ke sebuah warung untuk membeli air mineral. Tapi aku
menolak dan mengajaknya untuk pulang kerumah saja. Reno tidak mengatakan
apapun, tapi ia ikut denganku pulang.
Sampai di depan rumahku, aku langsung membuka
pagar rumah tanda peduli pada Reno yang masih berdiri diam dibelakangku. “Citra..”
panggil Reno. Aku menolehkan kepalaku ke hadapannya tanpa membalikan badanku,
“apa kamu sudah melupakanku?” tanya Reno. Aku terdiam, tidak menjawab
pertanyaannya. Reno tersenyum, “tidak usah dipikirkan perkataanku tadi, aku
pulang dulu” kata Reno dan menuju motornya yang diparkir di depan rumahku. Aku
menatap punggungnya yang semakin jauh, lalu kembali berjalan untuk membuka
pintu rumah dan masuk kedalam rumah.
Beberapa hari ini aku tidak melihat kak Galih
di kampus. Aku mengaduk-aduk jus melon milikku tanpa meminumnya. “Citra...” panggil
Lala. “ada apa?” tanyaku. “kamu melamun aja daritadi.. mikirin apa sih?” tanya Lala.
“gak ada… udah yuk kita masuk kelas selanjutnya..” kataku. Lala menggangguk
tanpa berkata apapun lagi. Di perjalanan kekelas, aku bertemu Reno. Kulihat Reno
tersenyum dan menghampiriku dan Lala. “Hai La..” kata Reno. “Hai Ren..” sapa Lala
balik. “Cit ada yang mau aku bicarakan denganmu?” kata Reno, ia menatap memohon
kepadaku. “dimana Tika?” tanyaku mengalihkan pembicaraan. “dia tidak ada kelas
hari ini… jadi..” kata Reno terpotong dengan perkataanku. “maaf No, aku ada
kelas..” kataku menolak ajakannya. Reno terlihat kecewa tapi hanya sebenter
lalu ia kembali tersenyum. “aku bisa tunggu kamu selesai kelas..” kata Reno.
“aku tidak janji… ayo La..” kataku dan melewati Reno. “sampai jumpa Ren..” kata
Lala. Reno melambaikan tangannya.
Aku melihat bayangan Reno di luar kelasku,
membuatku semakin gelisah. Beberapa saat kemudian Pak Yudi mengakhiri kelasnya,
aku memasukkan bukuku kedalam tas secara perlahan. “aku duluan ya Cit...” kata Lala.
“sampai jumpa..” kataku. Aku menarik nafas sebelum keluar dari kelas, dan tampak
Reno berdiri di samping pintu kelasku. “kelasmu sudah selesai?” tanya Reno.
“iya..” kataku singkat. “kita kekantin dulu ya… ada yang mau aku bicarakan sama
kamu..” kata Reno. Aku tidak punya pilihan lain selain menganggukan kepala.
Tiba dikantin, Reno memesankan minuman
untukku dan untuknya. “apa yang mau kamu bicarakan?”tanyaku. Dia berdehem,
“kau.. dan kak Galih pacaran?” tanya Reno. “tidak..” kataku, “kenapa waktu itu
dia kerumahmu?” tanya Reno lagi. “dia mengembalikan gelangku..” kataku.
“akhir-akhir ini kalian dekat..” kata Reno. Aku tidak menjawab Reno, “Citra...
sebenarnya...” kata Reno terhenti ketika melihatku berdiri. “aku harus
pergi…”kataku. Reno memegang tanganku untuk menahanku pergi. “Cit... aku masih
sayang sama kamu..” kata Reno membuatku terdiam. Aku melepaskan tangan Reno
secara kasar, “perasaanku bukan permainan yang bisa kamu mainkan kapan saja” kataku
menatapnya tajam. “maaf aku… aku awalnya memang menyukai Tika tapi setelah
melihat kamu dan kak Galih, aku menyadari kalau aku sayang sama kamu..” kata Reno.
“maaf.. aku menyukai orang lain..” kataku, “apa itu kak Galih?” tanya Reno, aku
tersenyum dan menganggukan kepalaku. “iya.. aku menyukainya..” kataku. “apa
tidak ada kesempatan bagiku?” tanya Reno lagi, aku tersenyum dan menggelengkan
kepalaku. Reno menghela nafas, “jangan sakiti Tika… dia gadis yang baik...” kataku
dan pergi meninggalkan Reno sendirian di meja kantin.
Sudah 2 minggu sejak kejadian di kantin itu,
aku masih tidak melihat kak Galih di kampus seolah-olah dia menghindariku. Aku
berjalan menuju gerbang kampus setelah kelas hari ini selesai. Aku melihat di
parkiran mobil ada mobil kak Galih terparkir disana. Aku menghampiri mobil
tersebut, “apa kak Galih di kampus?” gumamku. “Citra...” sebuah suara membuatku
terkejut, suara dari orang yang aku rindukan. Aku membalikkan badanku, “kak
Galih...” kataku. Dia menatapku, “apa yang kamu lakukan di depan mobilku?” tanya
kak Galih. “aku… kenapa kak Galih seperti menghilang?” tanyaku, kak Galih menatapku
sedikit terkejut lalu dia menatap kearah lain. “aku… sebenarnya aku melihat
kamu dan Reno di kantin 2 minggu yang lalu… aku juga mendengar kalau dia masih
sayang sama kamu jadi makanya.. aku pikir kamu sudah kembali padanya… jadi…
akh! Aku tak tau… mungkin ini sudah terlambat tapi… tapi aku menyukaimu… bukan
karna kagum atau semacamnya, tapi karna aku… aku menyukaimu sebagai seorang
perempuan, aku ingin kamu jadi kekasihku… tapi sepertinya sudah terlambat… aku
tidak akan menganggumu lagi.. berbahagialah bersama Reno…” kata kak Galih. Aku
mengedipkan mataku beberapa kali, ini kalimat terpanjang yang pernah kak Galih
katakan padaku, dan itu membuatku terkejut. Lalu, aku tersenyum kepadanya, “kak…
aku mau...” kataku. kak Galih menatapku, “kamu… mau apa?” tanya kak Galih
bingung. “aku mau jadi kekasih kak Galih...” kataku, “apa? kekasihr? bukannya…”
kata kak Galih terhenti, dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. “Ya
Tuhan…” katanya, kemudian dia langsung memelukku erat. “terima kasih..”kata kak
Galih. Aku tersenyum…
Terima kasih kak Galih sudah menghilangkan
kesedihanku dengan kehadiranmu.
Tidak ada komentar :
Posting Komentar