Sabtu, 29 April 2017

Cerita Pendek

                                    Kehadiranmu


Kulihat sepasang kekasih itu dengan tatapan sedih. Hatiku sakit mengetahui fakta bahwa aku hanya di manfaatkan untuk mendapatkan seseorang. Mataku dan mata mantan kekasihku bertemu, segera aku berbalik badan. “Citra..” panggil seseorang. Aku menggigit bibir bawahku, kemudian berbalik kembali. “Hai Tika..” jawabku. Aku menampilkan senyum palsuku, bersikap tidak terjadi apa-apa. “Kemarilah.. kelas belum dimulai kan?” kata Tika. Tika menghampiriku lalu menarik tanganku untuk mengikutinya menuju kursi panjang taman kampus. Aku duduk di samping Tika, “Citra kenalkan ini kekasihku..” kata Tika. ‘aku mengenalnya Tik’ kataku dalam hati. “ah iya Citra” kataku mengulurkan tangan. Dia menyambut tanganku, “Reno..” katanya. Ya Tuhan rasanya aku ingin menangis sekarang. Aku menarik tanganku kemudian bangkit dari kursi taman, “ah benar, aku harus mengumpulkan laporan penelitianku minggu kemarin” kataku. ‘tidak itu bohong. Tidak ada laporan Citra bodoh’ batinku. “ah begitu.. kalau begitu kumpulkan, pasti sibuk sekali di jurusan kedokteran” kata Tika, terlihat sekali dia kecewa. “Eyyy.. kita bisa menghabiskan waktu hari sabtu ini” kataku memukul pelan bahunya. “ah tapi.. hari sabtu aku ada rencana pergi dengan Reno, maaf.. ” kata Tika menyesal. Aku kembali menampilkan senyum palsuku, “ah Tidak apa Tik, kita masih ada hari sabtu lainnya.. kalau begitu aku pergi dulu ya, Tika, Reno” kataku dan melambaikan tangan. Aku sedikit berlari kecil, tujuanku sekarang adalah toilet.
“Hiks.. Dasar bodoh..”
Sekitar 15 menit aku menangis, kemudian aku kembali menata penampilanku sebelum aku berjalan keluar dari toilet. “oh Citra..” panggil seseorang, kemudian aku berbalik karena merasa di panggil. “oh Heru… ada apa?” tanyaku. Tidak biasanya seorang Heru mengeluarkan suara. “kamu di cari kak Galih..” kata Heru, “Galih? Galih siapa?” tanyaku, siapa itu Galih?aku tidak mengenalnya. “Kakak tingkat dari jurusan Manajemen Bisnis.. sudah ya, kamu ditunggu di perpustakaan” kata Heru lalu berjalan melewatiku. “eh tu-tunggu dulu.. Heru! Heru! Hei..” kataku. “masalahnya perpustakaan mana?setiap fakultas kan ada perpustakaan” gumamku. Kemudian aku mengangkat bahuku, lalu kembali berjalan sambil memikirkan perpustakaan yang mana yang akan aku masuki terlebih dahulu, “bagaimana kalau di Fakultas Ekonomi?bukannya tadi Heru bilang kak Galih jurusan Manajemen Bisnis” kataku lalu melangkah menuju perpustakaan Fakultas Ekonomi.
Mulai dari Fakultas Ekonomi, kemudian ke Teknik, lalu ke Hukum, dan kemudian kubuka pintu perpustakaan Fakultasku, Fakultas Kedokteran. Ini perpustakaan keempat yang aku kunjungi. Aku mengedarkan pandanganku, “sepertinya bukan disini..” kataku,sebelum aku berbalik. “Citra..” sebuah suara maskulin khas seorang pria memanggilku. Aku berbalik, Astaga! Tampan sekali cowok ini. “ehm. Kamu memanggilku?” kataku ragu. “iya.. namaku Galih..” kata pria itu yang mengaku bernama Galih. “ah iya.. ehm ada perlu apa kakak memanggilku? kata Heru, kakak memanggilku” kataku, dia tersenyum. “aku rasa kita bisa bicara di lain tempat.. disini kurang nyaman” kata kak Galih, aku menggangguk lalu mengikuti langkahnya keluar perpustakaan.
Kami duduk di salah satu meja kantin dikampus. Sambil menunggu pesanan, aku kembali bertanya. “jadi… kakak, ada perlu apa?” tanyaku, dia berdehem. “sebenarnya aku ingin mengatakan perasaan padamu..” kata kak Galih memandangku dengan matanya yang tajam seperti elang. Aku membuka mulutku tak percaya, kemudian menggelengkan kepalaku pelan untuk menyadarkanku dari keterkejutanku. “a-ah maaf kak. Aku kurang mengerti maksud kakak mengatakan perasaan apa?” tanyaku memastikan. “jadi begini, Cit… aku menyukaimu..” katanya, seketika aku merasa pusing. Aku memegangi kepalaku dan memejamkan mata, oh Tuhan ini terlalu cepat. “pesanan anda.. silahkan” kata penjual kantin mengantarkan pesanan kami. “ah ya terima kasih..” kataku. Aku menyeruput es teh lemonku, dia masih memandangku seperti menunggu jawabanku. Aku menyelesaikan acara minumku, lalu aku berdehem. “be-begini kak.. sejujurnya aku belum mengenal kakak jadi aku-” kataku terpotong, “aaahh aku mengerti. Sejujurnya juga aku tidak memintamu memberi jawaban sekarang.. aku ingin mengatakan perasaanku saja terlebih dahulu, jadi.. mmm maksudku kita bisa saling mengenal terlebih dahulu, aku… aku hanya melihat kamu dari jauh selama ini.. dan bertanya pada beberapa teman, jadi.. ah kita bisa saling mengenal dulu” kata kak Galih terlihat sedikit gugup. Aku tersenyum, tapi bukan senyum palsu yang aku tampilkan seperti tadi. “baiklah.. ayo saling mengenal lebih jauh, kak Galih” kataku mengulurkan tanganku. Dia tersenyum dan menyambut tanganku, “ayo saling mengenal.. Citra” katanya.
Aku berjalan menuju gerbang kampus, hari ini aku hanya ada satu mata kuliah. Disana, aku melihat Tika dan Ratna berada di gerbang kampus, “Citra...” panggil Ratna, “Hei girls.. sedang apa kalian?” tanyaku, “aku ingin mengajak kalian berdua shopping tapi Tika malah akan pergi dengan kekasih barunya.. aku juga ingin mengenal kekasih baru Tika” kata Chorong merangkulku, “Hei.. pasti kamu akan iri denganku karna kekasihku sangat keren dibandingkan dengan kak Bayu” kata Bomi, “kak Bayu akan selalu keren di mataku” kata Ratna menjulurkan lidahnya. Aku tertawa melihat tingkah mereka berdua. “Ah Reno... disini” kata Tika membuat jantungku kembali berdetak dengan cepat. “eh mana? Mana?...” kata Ratna. Jantungku semakin cepat berdetaknya, “Hei sayang...” ah itu suara Reno. Ratna melihat Reno, keduanya tampak terkejut. “KAMU….” kata Ratna sedikit berteriak, aku meremas tangan Ratna memberi isyarat agar tenang. “ah maaf.. aku kira kamu seseorang yang aku kenal..” kata Ratna. “ahahaha.. tak apa.. ah ya aku Reno”kata Reno. Ratna tersenyum, “aku Ratna..” kata Ratna. “ah iya..” kata Reno, kemudian hening melanda kami. “baiklah.. ayo Ratna kita pergi shopping, bye Tika, Reno” kataku mendorong-dorong Ratna agar jalan.
Didalam mobil, sepanjang perjalanan Ratna menceramahiku. “kenapa kamu begitu bodoh Cit? dia Reno kekasihmu kan ah bukan tapi mantan kekasih.. bagaimana bisa dia berpacaran dengan Tika setelah dia memutuskanmu secara tak jelas?” kata Ratna tanpa jeda sambil menyetir mobilnya. “aku tidak tahu Rat..” kataku pelan. “lalu apa Tika tau, siapa kekasihnya itu?” Tanya Ratna, aku menggeleng. “Tika tak tau..” kataku. Ratna menghela nafas, “kenapa gak beritahu dia sih Cit? kalau begitu biar aku beritahu kepada Tika” kata Ratna. “tidak.. nanti Tika kecewa ” kataku. Ratna menghela nafas lagi, lalu kami tidak membicarakan itu lagi.
Aku berjalan melewati taman kampus, disana aku melihat Reno dan Tika sedang bermesraan. Sesaat aku berhenti dan melamunkan diriku jika berada di posisi Tika sekarang. Tiba-tiba pandanganku gelap, ada kedua tangan yang menghalangiku. “tebak ini siapa?” Tanya sang pemilik tangan, aku tersenyum. “kak Galih..” kataku, kemudian dia menjauhkan tangannya dan aku berbalik menghadapnya. “wah tepat sekali, karna kamu menebak dengan benar aku akan mentraktirmu es krim” kata kak Galih. Aku terkekeh, “bilang saja kamu mau mengajakku kencan kak..” kataku. “wah ketahuan ya, lain kali kalau aku ingin mengajakmu kencan, aku katakan saja langsung ya” kata kak Galih tersenyum. Aku tersenyum semakin lebar, “ayo..” kataku semangat. Aku dan kak Galih berjalan berdampingan.
“bukankah itu Citra?” perkataan Tika membuat Reno menoleh kearah pandangan Tika dengan cepat. Kemudian Reno mengerutkan keningnya, Citra dengan Galih dari Manajemen bisnis sedang berjalan berdua. Sesaat Reno merasa kesal melihat hal itu. “sayang... sayang… SAYANG!” Tika berteriak menyadarkan Reno. “apa? ah maafkan aku sayang” kata Reno kemudian tersenyum. Tika mengerucutkan bibirnya, “kamu mengabaikanku..” kata Tika. “jangan memajukan bibirmu kalau tidak mau malu karna aku cium” kata Reno. Tika tersipu malu ketika mendengarnya, “ish kau ini..” kata Tika memukul pelan lengan Reno. Reno tersenyum, kemudian  kembali melamun.
“Terima kasih atas traktiran es krimnya...” kataku sedikit membungkuk, “sama-sama.. lain kali makan malam ya” kata kak Galih lalu tersenyum. “terserah kakak saja” kataku, kami kemudian saling diam. Kak Galih tidak beranjak dari tempatnya berdiri, di depanku, tidak juga berbicara sepatah kata pun. “kalau begitu aku masuk dulu ya kak, sampai jumpa” kataku, kemudian aku berbalik. Tapi sebuah tangan menggenggam tanganku, seketika jantungku berdetak cepat dan semakin cepat ketika kak Galih membawaku ke dalam pelukannya. Tanpa berkata apa-apa dia mencium keningku, aku hanya dapat memejamkan mataku. Ketika kak Galih sedikit menjauh, kemudian dia mengelus rambutku. “jika kamu sedih ingatlah ada aku untuk berbagi.. sekarang masuklah hari sudah sore” kata kak Galih, aku tersenyum canggung. “terima kasih...” kataku, kemudian dengan cepat aku mencium pipinya. Dia terdiam karna ciumanku yang tiba-tiba, tanpa pikir panjang aku berbalik dan sedikit berlari memasuki perkarangan rumah dan membuka pintu rumah. “sampai jumpa...” kataku dan menutup pintu, aku mengintip kak Galih lewat kaca jendela. Ku lihat dia tersenyum dan mengelus pipinya, lalu aku tersenyum melihatnya yang berjalan sedikit oleng ke dalam mobilnya. “kakak kamu sedang apa?” sebuah suara di belakangku membuatku sedikit kaget. “ anak kecil tidak perlu tau..” kataku, adikku yang bernama Fira mengangkat bahunya, kemudian memasuki ruang tv dengan mengunyah apel. Aku menaiki tangga menuju kamarku.
Aku dan keluargaku sedang makan malam di meja makan, tiba-tiba bel rumah berbunyi. “Fira... tolong, lihat siapa yang menekan bel pintu rumah?” kata ibu, “Biar kak Citra saja bu” kata Fira dan memakan makanannya, aku mencibir melihat adikku yang memang pemalas ini. Aku bangkit dari kursi, kemudian menuju pintu rumah. Ketika aku membuka pintu rumah, betapa kagetnya aku pada orang yang bertamu. “Hai Cit..” kata tamu itu yang adalah Reno. Aku menatapnya datar, “mau apa?” tanyaku to the point. Dia tersenyum, senyuman yang dulu dapat membuatku luluh atau masih sama sampai sekarang. “aku hanya mampir untuk bertamu, kebetulan aku lewat daerah sini” kata Reno menjelaskan kehadirannya. “Citra, kenapa kamu lama sekali? oh Reno...” kata ibuku  senang. Aku langsung menuju meja makan dan mengabaikan panggilan ibuku karna meninggalkan tamu tanpa mempersilahkan untuk masuk. Ayah melihatku seakan mengatakan ‘siapa yang bertamu?’, namun aku tidak menjawab dan duduk di kursiku.
Aku memandang kesal kepada ibu yang membiarkan Reno makan malam bersama. Tidak hentinya ibu menebar senyum bahkan sesekali tertawa ketika Reno menjawab pertanyaannya atau mengajak ibu bercanda. Kembali, bel pintu rumah kembali di tekan, aku mendengus ‘siapa lagi ini hah? Tika?’ batinku. Kini Fira lah yang membukakan pintu, dan entah kenapa lama sekali. “ibu… pangeran Fira datang” kata Fira, adikku memang sedikit genit padahal dia masih di sekolah dasar. Tapi aku lebih kaget melihat siapa yang bertamu kali ini, mungkin Reno lebih kaget. “kak Galih..” kataku, kak Galih tersenyum. Iya, yang bertamu kak Galih. Kebetulan sekali bukan?. “siapa?”Tanya ibu, dia memandang kak Galih dengan tatapan kagum. “ ah iya.. selamat malam, saya Galih”kata kak Galih. “siapanya Citra?”Tanya ayah. “dia temanku ayah”kataku, kemudian ayah menganggukan kepalanya.
Jadi, aku duduk di antara kak Galih dan Reno di meja makan. Ibu tidak keberatan sama sekali, ibu menganggap mereka berdua seperti orang yang sudah lama ia kenal.
Reno pulang terlebih dahulu dengan alasan harus cepat pulang karena ada urusan. ‘kalau cepat pulang, kenapa mampir kemari?’ batinku. Aku mengantarkan kak Galih sampai menuju pagar rumah, “ah iya.. sebenarnya aku ingin mengembalikan gelangmu ini yg terjatuh di mobil” kata kak Galih, aku memperhatikan lengan kiriku, ‘ah ya gelang keberuntunganku’ batinku. Aku meraihnya, “terima kasih kak..” kataku dan memakainya. Kak Galih langsung pamit pulang.
Esok paginya, ini adalah hari minggu. Hari libur kuliah, aku sudah terbangun dari jam 6 pagi hari. Sebenarnya tidak biasanya aku bangun secepat ini, namun karna Reno datang kerumah dan mengajakku lari pagi, itulah sebabnya aku sudah bangun. Kami sedang lari pagi disekitar rumahku, Reno mengajakku ke sebuah warung untuk membeli air mineral. Tapi aku menolak dan mengajaknya untuk pulang kerumah saja. Reno tidak mengatakan apapun, tapi ia ikut denganku pulang.
Sampai di depan rumahku, aku langsung membuka pagar rumah tanda peduli pada Reno yang masih berdiri diam dibelakangku. “Citra..” panggil Reno. Aku menolehkan kepalaku ke hadapannya tanpa membalikan badanku, “apa kamu sudah melupakanku?” tanya Reno. Aku terdiam, tidak menjawab pertanyaannya. Reno tersenyum, “tidak usah dipikirkan perkataanku tadi, aku pulang dulu” kata Reno dan menuju motornya yang diparkir di depan rumahku. Aku menatap punggungnya yang semakin jauh, lalu kembali berjalan untuk membuka pintu rumah dan masuk kedalam rumah.
Beberapa hari ini aku tidak melihat kak Galih di kampus. Aku mengaduk-aduk jus melon milikku tanpa meminumnya. “Citra...” panggil Lala. “ada apa?” tanyaku. “kamu melamun aja daritadi.. mikirin apa sih?” tanya Lala. “gak ada… udah yuk kita masuk kelas selanjutnya..” kataku. Lala menggangguk tanpa berkata apapun lagi. Di perjalanan kekelas, aku bertemu Reno. Kulihat Reno tersenyum dan menghampiriku dan Lala. “Hai La..” kata Reno. “Hai Ren..” sapa Lala balik. “Cit ada yang mau aku bicarakan denganmu?” kata Reno, ia menatap memohon kepadaku. “dimana Tika?” tanyaku mengalihkan pembicaraan. “dia tidak ada kelas hari ini… jadi..” kata Reno terpotong dengan perkataanku. “maaf No, aku ada kelas..” kataku menolak ajakannya. Reno terlihat kecewa tapi hanya sebenter lalu ia kembali tersenyum. “aku bisa tunggu kamu selesai kelas..” kata Reno. “aku tidak janji… ayo La..” kataku dan melewati Reno. “sampai jumpa Ren..” kata Lala. Reno melambaikan tangannya.
Aku melihat bayangan Reno di luar kelasku, membuatku semakin gelisah. Beberapa saat kemudian Pak Yudi mengakhiri kelasnya, aku memasukkan bukuku kedalam tas secara perlahan. “aku duluan ya Cit...” kata Lala. “sampai jumpa..” kataku. Aku menarik nafas sebelum keluar dari kelas, dan tampak Reno berdiri di samping pintu kelasku. “kelasmu sudah selesai?” tanya Reno. “iya..” kataku singkat. “kita kekantin dulu ya… ada yang mau aku bicarakan sama kamu..” kata Reno. Aku tidak punya pilihan lain selain menganggukan kepala.
Tiba dikantin, Reno memesankan minuman untukku dan untuknya. “apa yang mau kamu bicarakan?”tanyaku. Dia berdehem, “kau.. dan kak Galih pacaran?” tanya Reno. “tidak..” kataku, “kenapa waktu itu dia kerumahmu?” tanya Reno lagi. “dia mengembalikan gelangku..” kataku. “akhir-akhir ini kalian dekat..” kata Reno. Aku tidak menjawab Reno, “Citra... sebenarnya...” kata Reno terhenti ketika melihatku berdiri. “aku harus pergi…”kataku. Reno memegang tanganku untuk menahanku pergi. “Cit... aku masih sayang sama kamu..” kata Reno membuatku terdiam. Aku melepaskan tangan Reno secara kasar, “perasaanku bukan permainan yang bisa kamu mainkan kapan saja” kataku menatapnya tajam. “maaf aku… aku awalnya memang menyukai Tika tapi setelah melihat kamu dan kak Galih, aku menyadari kalau aku sayang sama kamu..” kata Reno. “maaf.. aku menyukai orang lain..” kataku, “apa itu kak Galih?” tanya Reno, aku tersenyum dan menganggukan kepalaku. “iya.. aku menyukainya..” kataku. “apa tidak ada kesempatan bagiku?” tanya Reno lagi, aku tersenyum dan menggelengkan kepalaku. Reno menghela nafas, “jangan sakiti Tika… dia gadis yang baik...” kataku dan pergi meninggalkan Reno sendirian di meja kantin.
Sudah 2 minggu sejak kejadian di kantin itu, aku masih tidak melihat kak Galih di kampus seolah-olah dia menghindariku. Aku berjalan menuju gerbang kampus setelah kelas hari ini selesai. Aku melihat di parkiran mobil ada mobil kak Galih terparkir disana. Aku menghampiri mobil tersebut, “apa kak Galih di kampus?” gumamku. “Citra...” sebuah suara membuatku terkejut, suara dari orang yang aku rindukan. Aku membalikkan badanku, “kak Galih...” kataku. Dia menatapku, “apa yang kamu lakukan di depan mobilku?” tanya kak Galih. “aku… kenapa kak Galih seperti menghilang?” tanyaku, kak Galih menatapku sedikit terkejut lalu dia menatap kearah lain. “aku… sebenarnya aku melihat kamu dan Reno di kantin 2 minggu yang lalu… aku juga mendengar kalau dia masih sayang sama kamu jadi makanya.. aku pikir kamu sudah kembali padanya… jadi… akh! Aku tak tau… mungkin ini sudah terlambat tapi… tapi aku menyukaimu… bukan karna kagum atau semacamnya, tapi karna aku… aku menyukaimu sebagai seorang perempuan, aku ingin kamu jadi kekasihku… tapi sepertinya sudah terlambat… aku tidak akan menganggumu lagi.. berbahagialah bersama Reno…” kata kak Galih. Aku mengedipkan mataku beberapa kali, ini kalimat terpanjang yang pernah kak Galih katakan padaku, dan itu membuatku terkejut. Lalu, aku tersenyum kepadanya, “kak… aku mau...” kataku. kak Galih menatapku, “kamu… mau apa?” tanya kak Galih bingung. “aku mau jadi kekasih kak Galih...” kataku, “apa? kekasihr? bukannya…” kata kak Galih terhenti, dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. “Ya Tuhan…” katanya, kemudian dia langsung memelukku erat. “terima kasih..”kata kak Galih. Aku tersenyum…

Terima kasih kak Galih sudah menghilangkan kesedihanku dengan kehadiranmu.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar