Sabtu, 29 April 2017

Cerita Pendek

                                    Kehadiranmu


Kulihat sepasang kekasih itu dengan tatapan sedih. Hatiku sakit mengetahui fakta bahwa aku hanya di manfaatkan untuk mendapatkan seseorang. Mataku dan mata mantan kekasihku bertemu, segera aku berbalik badan. “Citra..” panggil seseorang. Aku menggigit bibir bawahku, kemudian berbalik kembali. “Hai Tika..” jawabku. Aku menampilkan senyum palsuku, bersikap tidak terjadi apa-apa. “Kemarilah.. kelas belum dimulai kan?” kata Tika. Tika menghampiriku lalu menarik tanganku untuk mengikutinya menuju kursi panjang taman kampus. Aku duduk di samping Tika, “Citra kenalkan ini kekasihku..” kata Tika. ‘aku mengenalnya Tik’ kataku dalam hati. “ah iya Citra” kataku mengulurkan tangan. Dia menyambut tanganku, “Reno..” katanya. Ya Tuhan rasanya aku ingin menangis sekarang. Aku menarik tanganku kemudian bangkit dari kursi taman, “ah benar, aku harus mengumpulkan laporan penelitianku minggu kemarin” kataku. ‘tidak itu bohong. Tidak ada laporan Citra bodoh’ batinku. “ah begitu.. kalau begitu kumpulkan, pasti sibuk sekali di jurusan kedokteran” kata Tika, terlihat sekali dia kecewa. “Eyyy.. kita bisa menghabiskan waktu hari sabtu ini” kataku memukul pelan bahunya. “ah tapi.. hari sabtu aku ada rencana pergi dengan Reno, maaf.. ” kata Tika menyesal. Aku kembali menampilkan senyum palsuku, “ah Tidak apa Tik, kita masih ada hari sabtu lainnya.. kalau begitu aku pergi dulu ya, Tika, Reno” kataku dan melambaikan tangan. Aku sedikit berlari kecil, tujuanku sekarang adalah toilet.
“Hiks.. Dasar bodoh..”
Sekitar 15 menit aku menangis, kemudian aku kembali menata penampilanku sebelum aku berjalan keluar dari toilet. “oh Citra..” panggil seseorang, kemudian aku berbalik karena merasa di panggil. “oh Heru… ada apa?” tanyaku. Tidak biasanya seorang Heru mengeluarkan suara. “kamu di cari kak Galih..” kata Heru, “Galih? Galih siapa?” tanyaku, siapa itu Galih?aku tidak mengenalnya. “Kakak tingkat dari jurusan Manajemen Bisnis.. sudah ya, kamu ditunggu di perpustakaan” kata Heru lalu berjalan melewatiku. “eh tu-tunggu dulu.. Heru! Heru! Hei..” kataku. “masalahnya perpustakaan mana?setiap fakultas kan ada perpustakaan” gumamku. Kemudian aku mengangkat bahuku, lalu kembali berjalan sambil memikirkan perpustakaan yang mana yang akan aku masuki terlebih dahulu, “bagaimana kalau di Fakultas Ekonomi?bukannya tadi Heru bilang kak Galih jurusan Manajemen Bisnis” kataku lalu melangkah menuju perpustakaan Fakultas Ekonomi.
Mulai dari Fakultas Ekonomi, kemudian ke Teknik, lalu ke Hukum, dan kemudian kubuka pintu perpustakaan Fakultasku, Fakultas Kedokteran. Ini perpustakaan keempat yang aku kunjungi. Aku mengedarkan pandanganku, “sepertinya bukan disini..” kataku,sebelum aku berbalik. “Citra..” sebuah suara maskulin khas seorang pria memanggilku. Aku berbalik, Astaga! Tampan sekali cowok ini. “ehm. Kamu memanggilku?” kataku ragu. “iya.. namaku Galih..” kata pria itu yang mengaku bernama Galih. “ah iya.. ehm ada perlu apa kakak memanggilku? kata Heru, kakak memanggilku” kataku, dia tersenyum. “aku rasa kita bisa bicara di lain tempat.. disini kurang nyaman” kata kak Galih, aku menggangguk lalu mengikuti langkahnya keluar perpustakaan.
Kami duduk di salah satu meja kantin dikampus. Sambil menunggu pesanan, aku kembali bertanya. “jadi… kakak, ada perlu apa?” tanyaku, dia berdehem. “sebenarnya aku ingin mengatakan perasaan padamu..” kata kak Galih memandangku dengan matanya yang tajam seperti elang. Aku membuka mulutku tak percaya, kemudian menggelengkan kepalaku pelan untuk menyadarkanku dari keterkejutanku. “a-ah maaf kak. Aku kurang mengerti maksud kakak mengatakan perasaan apa?” tanyaku memastikan. “jadi begini, Cit… aku menyukaimu..” katanya, seketika aku merasa pusing. Aku memegangi kepalaku dan memejamkan mata, oh Tuhan ini terlalu cepat. “pesanan anda.. silahkan” kata penjual kantin mengantarkan pesanan kami. “ah ya terima kasih..” kataku. Aku menyeruput es teh lemonku, dia masih memandangku seperti menunggu jawabanku. Aku menyelesaikan acara minumku, lalu aku berdehem. “be-begini kak.. sejujurnya aku belum mengenal kakak jadi aku-” kataku terpotong, “aaahh aku mengerti. Sejujurnya juga aku tidak memintamu memberi jawaban sekarang.. aku ingin mengatakan perasaanku saja terlebih dahulu, jadi.. mmm maksudku kita bisa saling mengenal terlebih dahulu, aku… aku hanya melihat kamu dari jauh selama ini.. dan bertanya pada beberapa teman, jadi.. ah kita bisa saling mengenal dulu” kata kak Galih terlihat sedikit gugup. Aku tersenyum, tapi bukan senyum palsu yang aku tampilkan seperti tadi. “baiklah.. ayo saling mengenal lebih jauh, kak Galih” kataku mengulurkan tanganku. Dia tersenyum dan menyambut tanganku, “ayo saling mengenal.. Citra” katanya.
Aku berjalan menuju gerbang kampus, hari ini aku hanya ada satu mata kuliah. Disana, aku melihat Tika dan Ratna berada di gerbang kampus, “Citra...” panggil Ratna, “Hei girls.. sedang apa kalian?” tanyaku, “aku ingin mengajak kalian berdua shopping tapi Tika malah akan pergi dengan kekasih barunya.. aku juga ingin mengenal kekasih baru Tika” kata Chorong merangkulku, “Hei.. pasti kamu akan iri denganku karna kekasihku sangat keren dibandingkan dengan kak Bayu” kata Bomi, “kak Bayu akan selalu keren di mataku” kata Ratna menjulurkan lidahnya. Aku tertawa melihat tingkah mereka berdua. “Ah Reno... disini” kata Tika membuat jantungku kembali berdetak dengan cepat. “eh mana? Mana?...” kata Ratna. Jantungku semakin cepat berdetaknya, “Hei sayang...” ah itu suara Reno. Ratna melihat Reno, keduanya tampak terkejut. “KAMU….” kata Ratna sedikit berteriak, aku meremas tangan Ratna memberi isyarat agar tenang. “ah maaf.. aku kira kamu seseorang yang aku kenal..” kata Ratna. “ahahaha.. tak apa.. ah ya aku Reno”kata Reno. Ratna tersenyum, “aku Ratna..” kata Ratna. “ah iya..” kata Reno, kemudian hening melanda kami. “baiklah.. ayo Ratna kita pergi shopping, bye Tika, Reno” kataku mendorong-dorong Ratna agar jalan.
Didalam mobil, sepanjang perjalanan Ratna menceramahiku. “kenapa kamu begitu bodoh Cit? dia Reno kekasihmu kan ah bukan tapi mantan kekasih.. bagaimana bisa dia berpacaran dengan Tika setelah dia memutuskanmu secara tak jelas?” kata Ratna tanpa jeda sambil menyetir mobilnya. “aku tidak tahu Rat..” kataku pelan. “lalu apa Tika tau, siapa kekasihnya itu?” Tanya Ratna, aku menggeleng. “Tika tak tau..” kataku. Ratna menghela nafas, “kenapa gak beritahu dia sih Cit? kalau begitu biar aku beritahu kepada Tika” kata Ratna. “tidak.. nanti Tika kecewa ” kataku. Ratna menghela nafas lagi, lalu kami tidak membicarakan itu lagi.
Aku berjalan melewati taman kampus, disana aku melihat Reno dan Tika sedang bermesraan. Sesaat aku berhenti dan melamunkan diriku jika berada di posisi Tika sekarang. Tiba-tiba pandanganku gelap, ada kedua tangan yang menghalangiku. “tebak ini siapa?” Tanya sang pemilik tangan, aku tersenyum. “kak Galih..” kataku, kemudian dia menjauhkan tangannya dan aku berbalik menghadapnya. “wah tepat sekali, karna kamu menebak dengan benar aku akan mentraktirmu es krim” kata kak Galih. Aku terkekeh, “bilang saja kamu mau mengajakku kencan kak..” kataku. “wah ketahuan ya, lain kali kalau aku ingin mengajakmu kencan, aku katakan saja langsung ya” kata kak Galih tersenyum. Aku tersenyum semakin lebar, “ayo..” kataku semangat. Aku dan kak Galih berjalan berdampingan.
“bukankah itu Citra?” perkataan Tika membuat Reno menoleh kearah pandangan Tika dengan cepat. Kemudian Reno mengerutkan keningnya, Citra dengan Galih dari Manajemen bisnis sedang berjalan berdua. Sesaat Reno merasa kesal melihat hal itu. “sayang... sayang… SAYANG!” Tika berteriak menyadarkan Reno. “apa? ah maafkan aku sayang” kata Reno kemudian tersenyum. Tika mengerucutkan bibirnya, “kamu mengabaikanku..” kata Tika. “jangan memajukan bibirmu kalau tidak mau malu karna aku cium” kata Reno. Tika tersipu malu ketika mendengarnya, “ish kau ini..” kata Tika memukul pelan lengan Reno. Reno tersenyum, kemudian  kembali melamun.
“Terima kasih atas traktiran es krimnya...” kataku sedikit membungkuk, “sama-sama.. lain kali makan malam ya” kata kak Galih lalu tersenyum. “terserah kakak saja” kataku, kami kemudian saling diam. Kak Galih tidak beranjak dari tempatnya berdiri, di depanku, tidak juga berbicara sepatah kata pun. “kalau begitu aku masuk dulu ya kak, sampai jumpa” kataku, kemudian aku berbalik. Tapi sebuah tangan menggenggam tanganku, seketika jantungku berdetak cepat dan semakin cepat ketika kak Galih membawaku ke dalam pelukannya. Tanpa berkata apa-apa dia mencium keningku, aku hanya dapat memejamkan mataku. Ketika kak Galih sedikit menjauh, kemudian dia mengelus rambutku. “jika kamu sedih ingatlah ada aku untuk berbagi.. sekarang masuklah hari sudah sore” kata kak Galih, aku tersenyum canggung. “terima kasih...” kataku, kemudian dengan cepat aku mencium pipinya. Dia terdiam karna ciumanku yang tiba-tiba, tanpa pikir panjang aku berbalik dan sedikit berlari memasuki perkarangan rumah dan membuka pintu rumah. “sampai jumpa...” kataku dan menutup pintu, aku mengintip kak Galih lewat kaca jendela. Ku lihat dia tersenyum dan mengelus pipinya, lalu aku tersenyum melihatnya yang berjalan sedikit oleng ke dalam mobilnya. “kakak kamu sedang apa?” sebuah suara di belakangku membuatku sedikit kaget. “ anak kecil tidak perlu tau..” kataku, adikku yang bernama Fira mengangkat bahunya, kemudian memasuki ruang tv dengan mengunyah apel. Aku menaiki tangga menuju kamarku.
Aku dan keluargaku sedang makan malam di meja makan, tiba-tiba bel rumah berbunyi. “Fira... tolong, lihat siapa yang menekan bel pintu rumah?” kata ibu, “Biar kak Citra saja bu” kata Fira dan memakan makanannya, aku mencibir melihat adikku yang memang pemalas ini. Aku bangkit dari kursi, kemudian menuju pintu rumah. Ketika aku membuka pintu rumah, betapa kagetnya aku pada orang yang bertamu. “Hai Cit..” kata tamu itu yang adalah Reno. Aku menatapnya datar, “mau apa?” tanyaku to the point. Dia tersenyum, senyuman yang dulu dapat membuatku luluh atau masih sama sampai sekarang. “aku hanya mampir untuk bertamu, kebetulan aku lewat daerah sini” kata Reno menjelaskan kehadirannya. “Citra, kenapa kamu lama sekali? oh Reno...” kata ibuku  senang. Aku langsung menuju meja makan dan mengabaikan panggilan ibuku karna meninggalkan tamu tanpa mempersilahkan untuk masuk. Ayah melihatku seakan mengatakan ‘siapa yang bertamu?’, namun aku tidak menjawab dan duduk di kursiku.
Aku memandang kesal kepada ibu yang membiarkan Reno makan malam bersama. Tidak hentinya ibu menebar senyum bahkan sesekali tertawa ketika Reno menjawab pertanyaannya atau mengajak ibu bercanda. Kembali, bel pintu rumah kembali di tekan, aku mendengus ‘siapa lagi ini hah? Tika?’ batinku. Kini Fira lah yang membukakan pintu, dan entah kenapa lama sekali. “ibu… pangeran Fira datang” kata Fira, adikku memang sedikit genit padahal dia masih di sekolah dasar. Tapi aku lebih kaget melihat siapa yang bertamu kali ini, mungkin Reno lebih kaget. “kak Galih..” kataku, kak Galih tersenyum. Iya, yang bertamu kak Galih. Kebetulan sekali bukan?. “siapa?”Tanya ibu, dia memandang kak Galih dengan tatapan kagum. “ ah iya.. selamat malam, saya Galih”kata kak Galih. “siapanya Citra?”Tanya ayah. “dia temanku ayah”kataku, kemudian ayah menganggukan kepalanya.
Jadi, aku duduk di antara kak Galih dan Reno di meja makan. Ibu tidak keberatan sama sekali, ibu menganggap mereka berdua seperti orang yang sudah lama ia kenal.
Reno pulang terlebih dahulu dengan alasan harus cepat pulang karena ada urusan. ‘kalau cepat pulang, kenapa mampir kemari?’ batinku. Aku mengantarkan kak Galih sampai menuju pagar rumah, “ah iya.. sebenarnya aku ingin mengembalikan gelangmu ini yg terjatuh di mobil” kata kak Galih, aku memperhatikan lengan kiriku, ‘ah ya gelang keberuntunganku’ batinku. Aku meraihnya, “terima kasih kak..” kataku dan memakainya. Kak Galih langsung pamit pulang.
Esok paginya, ini adalah hari minggu. Hari libur kuliah, aku sudah terbangun dari jam 6 pagi hari. Sebenarnya tidak biasanya aku bangun secepat ini, namun karna Reno datang kerumah dan mengajakku lari pagi, itulah sebabnya aku sudah bangun. Kami sedang lari pagi disekitar rumahku, Reno mengajakku ke sebuah warung untuk membeli air mineral. Tapi aku menolak dan mengajaknya untuk pulang kerumah saja. Reno tidak mengatakan apapun, tapi ia ikut denganku pulang.
Sampai di depan rumahku, aku langsung membuka pagar rumah tanda peduli pada Reno yang masih berdiri diam dibelakangku. “Citra..” panggil Reno. Aku menolehkan kepalaku ke hadapannya tanpa membalikan badanku, “apa kamu sudah melupakanku?” tanya Reno. Aku terdiam, tidak menjawab pertanyaannya. Reno tersenyum, “tidak usah dipikirkan perkataanku tadi, aku pulang dulu” kata Reno dan menuju motornya yang diparkir di depan rumahku. Aku menatap punggungnya yang semakin jauh, lalu kembali berjalan untuk membuka pintu rumah dan masuk kedalam rumah.
Beberapa hari ini aku tidak melihat kak Galih di kampus. Aku mengaduk-aduk jus melon milikku tanpa meminumnya. “Citra...” panggil Lala. “ada apa?” tanyaku. “kamu melamun aja daritadi.. mikirin apa sih?” tanya Lala. “gak ada… udah yuk kita masuk kelas selanjutnya..” kataku. Lala menggangguk tanpa berkata apapun lagi. Di perjalanan kekelas, aku bertemu Reno. Kulihat Reno tersenyum dan menghampiriku dan Lala. “Hai La..” kata Reno. “Hai Ren..” sapa Lala balik. “Cit ada yang mau aku bicarakan denganmu?” kata Reno, ia menatap memohon kepadaku. “dimana Tika?” tanyaku mengalihkan pembicaraan. “dia tidak ada kelas hari ini… jadi..” kata Reno terpotong dengan perkataanku. “maaf No, aku ada kelas..” kataku menolak ajakannya. Reno terlihat kecewa tapi hanya sebenter lalu ia kembali tersenyum. “aku bisa tunggu kamu selesai kelas..” kata Reno. “aku tidak janji… ayo La..” kataku dan melewati Reno. “sampai jumpa Ren..” kata Lala. Reno melambaikan tangannya.
Aku melihat bayangan Reno di luar kelasku, membuatku semakin gelisah. Beberapa saat kemudian Pak Yudi mengakhiri kelasnya, aku memasukkan bukuku kedalam tas secara perlahan. “aku duluan ya Cit...” kata Lala. “sampai jumpa..” kataku. Aku menarik nafas sebelum keluar dari kelas, dan tampak Reno berdiri di samping pintu kelasku. “kelasmu sudah selesai?” tanya Reno. “iya..” kataku singkat. “kita kekantin dulu ya… ada yang mau aku bicarakan sama kamu..” kata Reno. Aku tidak punya pilihan lain selain menganggukan kepala.
Tiba dikantin, Reno memesankan minuman untukku dan untuknya. “apa yang mau kamu bicarakan?”tanyaku. Dia berdehem, “kau.. dan kak Galih pacaran?” tanya Reno. “tidak..” kataku, “kenapa waktu itu dia kerumahmu?” tanya Reno lagi. “dia mengembalikan gelangku..” kataku. “akhir-akhir ini kalian dekat..” kata Reno. Aku tidak menjawab Reno, “Citra... sebenarnya...” kata Reno terhenti ketika melihatku berdiri. “aku harus pergi…”kataku. Reno memegang tanganku untuk menahanku pergi. “Cit... aku masih sayang sama kamu..” kata Reno membuatku terdiam. Aku melepaskan tangan Reno secara kasar, “perasaanku bukan permainan yang bisa kamu mainkan kapan saja” kataku menatapnya tajam. “maaf aku… aku awalnya memang menyukai Tika tapi setelah melihat kamu dan kak Galih, aku menyadari kalau aku sayang sama kamu..” kata Reno. “maaf.. aku menyukai orang lain..” kataku, “apa itu kak Galih?” tanya Reno, aku tersenyum dan menganggukan kepalaku. “iya.. aku menyukainya..” kataku. “apa tidak ada kesempatan bagiku?” tanya Reno lagi, aku tersenyum dan menggelengkan kepalaku. Reno menghela nafas, “jangan sakiti Tika… dia gadis yang baik...” kataku dan pergi meninggalkan Reno sendirian di meja kantin.
Sudah 2 minggu sejak kejadian di kantin itu, aku masih tidak melihat kak Galih di kampus seolah-olah dia menghindariku. Aku berjalan menuju gerbang kampus setelah kelas hari ini selesai. Aku melihat di parkiran mobil ada mobil kak Galih terparkir disana. Aku menghampiri mobil tersebut, “apa kak Galih di kampus?” gumamku. “Citra...” sebuah suara membuatku terkejut, suara dari orang yang aku rindukan. Aku membalikkan badanku, “kak Galih...” kataku. Dia menatapku, “apa yang kamu lakukan di depan mobilku?” tanya kak Galih. “aku… kenapa kak Galih seperti menghilang?” tanyaku, kak Galih menatapku sedikit terkejut lalu dia menatap kearah lain. “aku… sebenarnya aku melihat kamu dan Reno di kantin 2 minggu yang lalu… aku juga mendengar kalau dia masih sayang sama kamu jadi makanya.. aku pikir kamu sudah kembali padanya… jadi… akh! Aku tak tau… mungkin ini sudah terlambat tapi… tapi aku menyukaimu… bukan karna kagum atau semacamnya, tapi karna aku… aku menyukaimu sebagai seorang perempuan, aku ingin kamu jadi kekasihku… tapi sepertinya sudah terlambat… aku tidak akan menganggumu lagi.. berbahagialah bersama Reno…” kata kak Galih. Aku mengedipkan mataku beberapa kali, ini kalimat terpanjang yang pernah kak Galih katakan padaku, dan itu membuatku terkejut. Lalu, aku tersenyum kepadanya, “kak… aku mau...” kataku. kak Galih menatapku, “kamu… mau apa?” tanya kak Galih bingung. “aku mau jadi kekasih kak Galih...” kataku, “apa? kekasihr? bukannya…” kata kak Galih terhenti, dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. “Ya Tuhan…” katanya, kemudian dia langsung memelukku erat. “terima kasih..”kata kak Galih. Aku tersenyum…

Terima kasih kak Galih sudah menghilangkan kesedihanku dengan kehadiranmu.

Minggu, 23 Oktober 2016

PUISI

KAKAK
By Mahdalita Shabrina

Sejak awal dunia terlalu besar untukku
Seakan dunia dapat menghantamku kapanpun ia mau
Seakan ombak dapat menamparku dengan keras
Seakan tanah dapat menguburku sangat dalam
Tapi denganmu aku baik-baik saja
Ketika bersembunyi, kau datang menemukanku
Ketika terbakar, kau datang menyejukanku
Ketika membeku, kau datang menghangatkanku
Kau lah yang pertama datang untuk menghapus airmata walau semua tak tahu
Kau bahkan dapat meleburkan hatiku yang sekeras baja
Kau memulai dengan hangat
Kau memulai dengan lembut
Membawaku terbang menuju kenyamanan yang kubutuhkan
Membuatku mengembangkan perasaanku untuk menjadi diriku sendiri
Kakak

Kau membuatku mulai percaya jika saudara tak perlu sedarah

Senin, 17 Oktober 2016

PUISI




AKU YANG TERLUPAKAN





Karya Mahdalita Shabrina
Tahun lalu kita tak terpisahkan
Seharian, semalaman
Kamu tak pernah melepasku
Ada kau, ada aku
Bahkan kelelahanku membuat porak-poranda pikiranmu
                                                Kini semua berubah
                                                Kau membiarkanku tergeletak begitu saja
                                                Kehangatanmu, senyuman indahmu
                                                Kini tinggal kenangan saja
                                                Seakan ku tak pernah hadir dalam kehidupanmu
Tapi siapa aku?
Aku ini hanya sebuah barang terlupakan
Tergantikan dengan sosok baru, aku kau abaikan
Ah sudahlah!

Mungkin kecanggihanku sudah tak bisa memuaskanmu 

Sabtu, 21 Mei 2016

Cerita Devira

Misteri Tukang Ompol
Hari minggu ini aku sendirian di rumah. Ayah pergi bekerja ke luar kota, ibu dan Heru pergi kerumah nenek, sedangkan kak Yoga jalan bersama temannya. Rumah terasa sangat tenang di hari ini. Aku bersantai di sofa ruang tv, aku menonton kartun kesukaanku.
Ting tong
            Bel rumah berbunyi, ‘Palingan nawarin panci’ pikirku tanpa memperdulikan bel rumah yang kembali berbunyi. Dengan malas, aku bangkit dari sofa dan berjalan menuju pintu rumah. Aku buka pintu rumah dan menampilkan kak Yuni yang tersenyum lebar melihatku. Di bawah kakinya ada kedua anaknya, si Raski dan Raska. “Hai Ra, maaf ya kakak ganggu acara santaimu. Dirumah ada siapa? “ tanya kak Yuni. “Ira sendirian kak…” kataku. “Duh… maaf banget ya, kakak mau pergi ke kantor ada kerjaan… kakak titip Raski dan Raska ya, papa mereka tadi pergi mincing sama temannya” kata kak Yuni. Sebenarnya aku malas menjaga mereka berdua. Terakhir mereka kesini dan menginap, mereka mengompol dahsyat di kasurku. “Iya gak masalah kok kak…” kataku mengiyakan. “Bagus… nah Raski jaga adikmu dengan baik, kalian tidak boleh merepotkan tante Ira ya” kata kak Yuni kepada kedua anknya. Raska hanya mengangguk sedangkan Raski memberikan senyuman lebarnya. Kemudian, kak Yuni pergi berpamitan padaku.
            Sebenarnya aku penasaran, diantara mereka berdua siapa yang masih mengompol? Walau ibuku yakin mereka berdua masih mengompol karna kedua celana mereka basah ketika tertidur. Tapi keyakinanku berbeda dengan ibu, aku sangat yakin salah satu mereka yang mengompol. “Tante, Raski lapar…” kata Raski memandangku. “Ada roti, kalian mau roti? “ tanyaku. Raska mengangguk sedangkan Raski menggeleng, “Raski mau makan nasi…” kata Raski. “Tante lagi nda masak nasi…” kataku. “Raski mau nasi… nanti tante bakal Raski laporkan ke nenek” kata Raski. Nenek yang dia maksud itu adalah ibuku, walau ibu bilang ke mereka kalau dia belum cukup tua menjadi nenek tapi tetap saja mereka panggil nenek. “Iya deh, tante masak nasi dulu” kataku menyerah kalau sudah menggunakan nama ‘sakti’ itu.
            Mereka sudah makan, sebentar lagi mereka akan tertidur. Tunggu, bukannya aku memasukan obat tidur ya di makanan mereka tapi kebiasaan mereka seperti itu apalagi aku melihat Raski diam saja. “Kalian sudah mengantuk? “ tanyaku. Mereka berdua menganggukkan kepala. Aku menyuruh mereka cuci kaki terlebih dahulu sebelum menggiring mereka masuk ke kamarku. Bagaimana nasib kasurku nanti? Ah tenang saja, mereka tidur di kasur kecil yang ibu belikan sehari setelah mereka menginap, setelah aku merengek sambil berguling-guling dibawah kaki ibu, setelah kak Yoga tertawa terbahak melihatku begitupada akhirnya ibu mengiyakan juga.

            Ngomong-ngomong sudah jam 3 sore kok mereka belum bangun juga ya. ‘aku intip dulu ah’ pikirku. Aku membuka sedikit pintu kamarku, pelan tanpa suara agar tidak membangunkan mereka. Tapi tubuhku kaku setelah mengintip mereka dan mataku melebar. Dia, Raski ternyata si pengompol sedang asik mengencingi celana asiknya si Raska. Aku menutup pintu perlahan takut mengganggu aktifitas Raski. Aku langsung buru-buru pergi dari situ menuju dapur dan mengambil gelas. Aku tuangkan air putih di gelas lalu meminumnya sampai habis. “Tadi itu…. Astaga! Akhirnya aku berhasil mengetahuinya… yey!” kataku senang, sangking senangnya aku menari-nari di depan kulkas. Setelah sadar akan kelakuanku, aku pergi duduk di sofa ruang tv. Aku menyalakan tv, niat awalnya mau menonton tapi aku malah memikirkan jika nanti Raski masuk taman kanak-kanak bagaimana kalau ia masih mengompol? Ah tapi dia kan mengompol kalau tidur. Tapi kalau sekolahnya ada waktu tidur siang bersama bagaimana? Aku gak bisa bayangkan Raski akan mengompoli celana anak-anak satu ruangan agar tidak ketahuan kalau dia mengompol. Cukup cerdik juga dia… “Ibu pulang…” ah itu suara ibu. “Ibu sudah pulang? “ kataku. “Mukamu kenapa? Kok kayak lagi senang gitu sih” tanya ibu heran. “Ah perasaan ibu aja… sini Ira bantu bawa tas ibu” kataku. “Kamu gak kerasukan roh orang rajin kan pas sendirian di rumah? “ tanya ibu. “Aku gak sendirian bu, ada Raski dan Raska kok lagi tidur” kataku. “Ah pasti mereka mengompol lagi…” desah ibu. “Ah ngomong-ngomong tentang ompol…” kataku. “Kenapa? ‘ tanya ibu. Aku menggeleng, “Gak papa, aku haus saja kok” kataku tersenyum. “Aneh… sudah bawain ke dapur sana” kata ibu. “Oke…” kataku. Biarlah ibu mencari tahu sendiri hihihi

Jumat, 06 Mei 2016

Cerita Devira

Pelaku Pencuri Eskrim

            Aku sudah bersiap untuk berangkat sekolah, “Bu kak Yoga mana? ” tanyaku. “Kakakmu lagi sakit..” kata ibu. “Sakit? Tadi malam perasaanku biasa aja deh” kataku. Ibu mengangkat bahunya, “Tadi pagi ibu periksa demam, baru aja masuk kamar lagi” kata ibu. “Oh yasudah kalau gitu aku berangkat dulu ya bu” kataku pamit.
            Hari ini aku hanya pelajaran olahraga dan kesenian. Jadi pulang lebih cepat dari biasanya. Rumahku dan sekolah lumayan jauh, naik angkot satu kali dan berjalan kaki 15 menit sudah sampai di depan rumah. Tapi hari ini aku rasanya mau sampai rumah lebih cepat dan aku menundukkan kepalaku. ‘Semoga saja dia tidak lihat’ batinku menjerit. “Oh halo manis…”
            Terlambat.
            Aku menoleh dan memberikan senyuman terpaksaku. “Oh kak Riski…” kataku. “Iya ini calon suami masa depanmu yang memanggil” kata kak Riski tersenyum. Gila, siapa yang mau jadi istri masa depanmu hah? . Lagi-lagi aku hanya tersenyum ‘terpaksa’. “Oh iya, ini buku catatan untuk Yoga… maaf ya aku nda bisa lama, calon suamimu ini harus main futsal… bye sayangku” kata kak Riski dan mengedipkan sebelah matanya kepadaku dan pergi. Tolong siapa saja bawakan aku kantung plastik sekarang!
            ‘Ya ampun… sebaiknya aku putar jalan saja mulai sekarang atau aku meminta ibu untuk segera pindah rumah’ pikirku.
            “Aku pulang…” kataku. Rumah terlihat sepi, “Kak Yog… ada titipan dari kak Riski…” kataku mengetuk pintu kamar kak Yoga. Tidak ada jawaban. “Kak, aku masuk ya…” kataku lagi lalu membuka pintu kamar kak Yoga. Ketika aku berhasil membukanya, aku langsung menatap kak Yoga yang sedang tidur. ‘Kasihan sekali…’ pikirku. Ketika aku akan pergi dari kamar kak Yoga, aku menendang sesuatu. Aku melihat kebawah kakiku, “Lho ini kan?!” kataku sedikit berteriak. Ini kan es krim milikku yang hilang 2 hari yang lalu, jadi kak Yoga yang makan. Aku melihat kearah kak Yoga yang masih tertidur. ‘Awas ya kak’ pikirku.

            “Bu, liat sikat gigiku gak? ” tanya kak Yoga kepada ibu. “Ibu nda liat” kata ibu. “Kok tiba-tiba hilang ya, aku kan belum sikat gigi” kata kak Yoga. Kak Yoga kembali masuk kedalam kamar mandi. “Astaga… SIKAT GIGIKUUUUUU” teriak histeris kak Yoga. Aku tertawa di sofa ruang tv. Kak Yoga keluar kamar mandi, “Sikat gigiku yang malang…” kata kak Yoga sedih. Aku berjalan melewatinya, “Makanya lain kali jangan ambil eskrimku” kataku berlari memasuki kamar dan menguncinya. Pintu kamarku di gedor dari luar, “Awas ya kamu Ira…” kata kak Yoga.

Kamis, 05 Mei 2016

Cerita Devira

Batal berlibur
            Aku menguap lebar ketika keluar dari kamar. Di minggu pagi ini tidak biasanya rumah sudah berisik seperti ada acara sunatan. Ibu sudah mondar-mandir kesana kemari pada jam 8 pagi, kak Yoga sudah bangun dan Heru sudah mandi dengan bedak bayi yang tidak rapi menghiasi wajah bulatnya. Sekedar informasi, aku dan kak Yoga berbeda 2 tahun. Sekarang kak Yoga kelas 2 SMA, aku kelas 3 SMP dan Heru berusia 3 tahun.
            Aku duduk di sofa ruang keluarga sambil memperhatikan ibu yang sibuk dengan masakannya, aku tidak membantu ibu karena dapur adalah wilayah kekuasaan ibu, kalau kalian masih amatir sepertiku sebaiknya tidak kesana. Jika kalian penasaran, silahkan ke dapur dan beberapa detik kemudian kalian akan keluar terbirit-birit, kalau kalian beruntung kalian dalam keadaan utuh. Baiklah kita kembali. “Kak.. sebenarnya ada apa sih? ” tanyaku pada kak Yoga. “Kamu gak tau kalau hari ini kita jalan-jalan? ” kata kak Yoga. Aku menepuk jidatku, aku lupa kalau semalam ayah mengadakan rapat mendadak untuk memberitahukan kalau besok kita akan jalan-jalan. Besok kan berarti hari ini. Bukannya aku langsung pergi untuk bersiap tapi aku melihat ibu terlebih dahulu. Oh aman. Ibu masih sibuk memasak. Aku mulai berdiri dan menuju kamar tapi…
“Ira..” panggil ibu. Jidatku langsung berkeringat, kakiku terasa kesemutan ketika ibu memanggil. Dengan perlahan aku menoleh kearah ibu, ibu sudah memandangku tepat di mata seakan mata ibu menusuk mataku dengan pisau. “Iya bu..” kataku pelan. Ibu menarik nafas, kemudian...
“Kamu tau ini jam berapa? ” kata ibu, aku menganggukan kepala. “Kamu ingatkan semalam yang dikatakan oleh ayah..” kata ibu lagi, aku menganggukan kepala lagi. “ Jam 10 kita jalan-jalan, kamu belum mandinya, belum dandannya, belum sarapannya, belum malas-malasannya.. bla..bla bla..” ceramah ibu dimulai, aku hanya bisa mengheningkan cipta saja, menundukkan kepala dan berpikir yang dibicarakan ibu itu kegiatanku atau kegiatan ibu. Setelah memakan durasi 15 menit, ibu mulai tenang kembali. “Cepat mandi..” kata ibu akhirnya. Ibu kembali ke dapur, sedangkan aku langsung masuk ke kamar untuk bersiap.
Sudah pukul 10 pagi, ibu sudah siap dengan kacamata hitamnya. Kata ibu, dipantai pasti panas. Kalau panas ya bawa payung lah bu. Aku ingin menjawab seperti itu tapi aku hanya bisa tersenyum dan tak bertanya lagi. Aku masih sayang dengan wajahku, bisa bolong-bolong wajahku karena tatapan laser ibu.
Ayah sudah bersiap, dengan baju bahan kaos berwarna yang sama dengan baju ibu, warna merah muda. Semua sudah masuk kedalam mobil, “Sudah siap liburan? ” tanya ayah dan hanya di jawab antusias oleh ibu dan Heru. Ayah mulai menyalakan mobil, kemudian menyalakan mobil lagi, menyalakannya lagi, lagi dan lagi. Loh ada yang aneh…“Sepertinya mogok..” kata ayah. “Kok bisa mogok sih yah? ” kata ibu, ibu mulai lapar eh panik maksudnya.”Mungkin sudah waktunya..” kata ayah.

Ayah sedang sibuk menelpon seseorang, “Tidak bisa ya.. iya mogok, yasudah kalau begitu” kata ayah mengakhiri teleponnya. “Gimana yah? ” tanya ibu. Mata ibu berkaca-kaca membuat ayah gelisah melihatnya. “Bu, jangan nangis..nanti dandanannya hancur” kata ayah, ibu langsung meraba-raba isi tasnya dan mengeluarkan cermin. “Aduh.. untung saja ayah ingatkan.. terima kasih ya ayah..” kata ibu tersenyum sambil bercermin. Ayah merangkul ibu, “Iya bu, alat make up ibu itu mahal selain itu apapun untukmu sayang” kata ayah tersenyum, membuat ibu mencubit pinggang ayah karna malu. Aku keluar dari mobil sambil menggendong Heru, kak Yoga juga keluar dari mobil. Aku menurunkan Heru dari gendonganku sedangkan kak Yoga langsung keluar rumah. “Mau kemana Yog? ” Tanya ibu. “Kerumah Riski aja bu..” kata kak Yoga lalu menyebrang jalan. Aku mengeluarkan kunci rumah dari tasku, memasukan kunci ke lubang kunci dan memutarnya. Aku membuka pintu rumah, “Mau kemana Ra? ” Tanya ayah. “Mau ke Paris..” kataku. Ibu menatapku, “Ke Paris? Ibu ikut ya” kata ibu, “Boleh.. bawa guling dan bantal ya bu” kataku. “Buat apa? ” kata ibu heran. “Untuk mimpi ke Paris..” kataku langsung masuk kedalam rumah. Terdengar teriakan ibu dari luar rumah. Jadi, ini cerita jalan-jalan kami yang batal untuk kesekian kalinya.

Cerita Devira

Hai namaku Devira Putri Gemilang, biasa dipanggil Ira oleh ibuku. Aku adalah anak kedua dari tiga bersaudara, satu-satunya anak perempuan di keluargaku. Kakak laki-lakiku benama Yoga Putra Gemilang, sedangkan adik laki-lakiku bernama Heru Putra Gemilang. Gemilang? Namaku dan kedua saudaraku berakhir dengan nama Gemilang. Gemilang adalah nama ayah kami, Gemilang Kurniawan. Ayah adalah seorang arsitek di kota yang kami tinggali. Ibu kami bernama Tania Dewita, seorang ibu rumah tangga yang kesehariannya bergosip di tukang sayur keliling pada pagi hari dengan daster. Nah ini adalah keseharianku dengan keempat anggota keluargaku. Eits tapi aku tidur dulu sebelum bercerita. hehehe bye