Kamis, 05 Mei 2016

Cerita Devira

Batal berlibur
            Aku menguap lebar ketika keluar dari kamar. Di minggu pagi ini tidak biasanya rumah sudah berisik seperti ada acara sunatan. Ibu sudah mondar-mandir kesana kemari pada jam 8 pagi, kak Yoga sudah bangun dan Heru sudah mandi dengan bedak bayi yang tidak rapi menghiasi wajah bulatnya. Sekedar informasi, aku dan kak Yoga berbeda 2 tahun. Sekarang kak Yoga kelas 2 SMA, aku kelas 3 SMP dan Heru berusia 3 tahun.
            Aku duduk di sofa ruang keluarga sambil memperhatikan ibu yang sibuk dengan masakannya, aku tidak membantu ibu karena dapur adalah wilayah kekuasaan ibu, kalau kalian masih amatir sepertiku sebaiknya tidak kesana. Jika kalian penasaran, silahkan ke dapur dan beberapa detik kemudian kalian akan keluar terbirit-birit, kalau kalian beruntung kalian dalam keadaan utuh. Baiklah kita kembali. “Kak.. sebenarnya ada apa sih? ” tanyaku pada kak Yoga. “Kamu gak tau kalau hari ini kita jalan-jalan? ” kata kak Yoga. Aku menepuk jidatku, aku lupa kalau semalam ayah mengadakan rapat mendadak untuk memberitahukan kalau besok kita akan jalan-jalan. Besok kan berarti hari ini. Bukannya aku langsung pergi untuk bersiap tapi aku melihat ibu terlebih dahulu. Oh aman. Ibu masih sibuk memasak. Aku mulai berdiri dan menuju kamar tapi…
“Ira..” panggil ibu. Jidatku langsung berkeringat, kakiku terasa kesemutan ketika ibu memanggil. Dengan perlahan aku menoleh kearah ibu, ibu sudah memandangku tepat di mata seakan mata ibu menusuk mataku dengan pisau. “Iya bu..” kataku pelan. Ibu menarik nafas, kemudian...
“Kamu tau ini jam berapa? ” kata ibu, aku menganggukan kepala. “Kamu ingatkan semalam yang dikatakan oleh ayah..” kata ibu lagi, aku menganggukan kepala lagi. “ Jam 10 kita jalan-jalan, kamu belum mandinya, belum dandannya, belum sarapannya, belum malas-malasannya.. bla..bla bla..” ceramah ibu dimulai, aku hanya bisa mengheningkan cipta saja, menundukkan kepala dan berpikir yang dibicarakan ibu itu kegiatanku atau kegiatan ibu. Setelah memakan durasi 15 menit, ibu mulai tenang kembali. “Cepat mandi..” kata ibu akhirnya. Ibu kembali ke dapur, sedangkan aku langsung masuk ke kamar untuk bersiap.
Sudah pukul 10 pagi, ibu sudah siap dengan kacamata hitamnya. Kata ibu, dipantai pasti panas. Kalau panas ya bawa payung lah bu. Aku ingin menjawab seperti itu tapi aku hanya bisa tersenyum dan tak bertanya lagi. Aku masih sayang dengan wajahku, bisa bolong-bolong wajahku karena tatapan laser ibu.
Ayah sudah bersiap, dengan baju bahan kaos berwarna yang sama dengan baju ibu, warna merah muda. Semua sudah masuk kedalam mobil, “Sudah siap liburan? ” tanya ayah dan hanya di jawab antusias oleh ibu dan Heru. Ayah mulai menyalakan mobil, kemudian menyalakan mobil lagi, menyalakannya lagi, lagi dan lagi. Loh ada yang aneh…“Sepertinya mogok..” kata ayah. “Kok bisa mogok sih yah? ” kata ibu, ibu mulai lapar eh panik maksudnya.”Mungkin sudah waktunya..” kata ayah.

Ayah sedang sibuk menelpon seseorang, “Tidak bisa ya.. iya mogok, yasudah kalau begitu” kata ayah mengakhiri teleponnya. “Gimana yah? ” tanya ibu. Mata ibu berkaca-kaca membuat ayah gelisah melihatnya. “Bu, jangan nangis..nanti dandanannya hancur” kata ayah, ibu langsung meraba-raba isi tasnya dan mengeluarkan cermin. “Aduh.. untung saja ayah ingatkan.. terima kasih ya ayah..” kata ibu tersenyum sambil bercermin. Ayah merangkul ibu, “Iya bu, alat make up ibu itu mahal selain itu apapun untukmu sayang” kata ayah tersenyum, membuat ibu mencubit pinggang ayah karna malu. Aku keluar dari mobil sambil menggendong Heru, kak Yoga juga keluar dari mobil. Aku menurunkan Heru dari gendonganku sedangkan kak Yoga langsung keluar rumah. “Mau kemana Yog? ” Tanya ibu. “Kerumah Riski aja bu..” kata kak Yoga lalu menyebrang jalan. Aku mengeluarkan kunci rumah dari tasku, memasukan kunci ke lubang kunci dan memutarnya. Aku membuka pintu rumah, “Mau kemana Ra? ” Tanya ayah. “Mau ke Paris..” kataku. Ibu menatapku, “Ke Paris? Ibu ikut ya” kata ibu, “Boleh.. bawa guling dan bantal ya bu” kataku. “Buat apa? ” kata ibu heran. “Untuk mimpi ke Paris..” kataku langsung masuk kedalam rumah. Terdengar teriakan ibu dari luar rumah. Jadi, ini cerita jalan-jalan kami yang batal untuk kesekian kalinya.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar