Batal
berlibur
Aku
menguap lebar ketika keluar dari kamar. Di minggu pagi ini tidak biasanya rumah
sudah berisik seperti ada acara sunatan. Ibu sudah mondar-mandir kesana kemari
pada jam 8 pagi, kak Yoga sudah bangun dan Heru sudah mandi dengan bedak bayi
yang tidak rapi menghiasi wajah bulatnya. Sekedar informasi, aku dan kak Yoga
berbeda 2 tahun. Sekarang kak Yoga kelas 2 SMA, aku kelas 3 SMP dan Heru
berusia 3 tahun.
Aku
duduk di sofa ruang keluarga sambil memperhatikan ibu yang sibuk dengan
masakannya, aku tidak membantu ibu karena dapur adalah wilayah kekuasaan ibu,
kalau kalian masih amatir sepertiku sebaiknya tidak kesana. Jika kalian penasaran,
silahkan ke dapur dan beberapa detik kemudian kalian akan keluar
terbirit-birit, kalau kalian beruntung kalian dalam keadaan utuh. Baiklah kita
kembali. “Kak.. sebenarnya ada apa sih? ” tanyaku pada kak Yoga. “Kamu gak tau
kalau hari ini kita jalan-jalan? ” kata kak Yoga. Aku menepuk jidatku, aku lupa
kalau semalam ayah mengadakan rapat mendadak untuk memberitahukan kalau besok
kita akan jalan-jalan. Besok kan berarti hari ini. Bukannya aku langsung pergi
untuk bersiap tapi aku melihat ibu terlebih dahulu. Oh aman. Ibu masih sibuk
memasak. Aku mulai berdiri dan menuju kamar tapi…
“Ira..” panggil
ibu. Jidatku langsung berkeringat, kakiku terasa kesemutan ketika ibu
memanggil. Dengan perlahan aku menoleh kearah ibu, ibu sudah memandangku tepat
di mata seakan mata ibu menusuk mataku dengan pisau. “Iya bu..” kataku pelan.
Ibu menarik nafas, kemudian...
“Kamu tau ini
jam berapa? ” kata ibu, aku menganggukan kepala. “Kamu ingatkan semalam yang
dikatakan oleh ayah..” kata ibu lagi, aku menganggukan kepala lagi. “ Jam 10
kita jalan-jalan, kamu belum mandinya, belum dandannya, belum sarapannya, belum
malas-malasannya.. bla..bla bla..” ceramah ibu dimulai, aku hanya bisa
mengheningkan cipta saja, menundukkan kepala dan berpikir yang dibicarakan ibu
itu kegiatanku atau kegiatan ibu. Setelah memakan durasi 15 menit, ibu mulai
tenang kembali. “Cepat mandi..” kata ibu akhirnya. Ibu kembali ke dapur,
sedangkan aku langsung masuk ke kamar untuk bersiap.
Sudah pukul 10 pagi, ibu sudah siap
dengan kacamata hitamnya. Kata ibu, dipantai pasti panas. Kalau panas ya bawa
payung lah bu. Aku ingin menjawab seperti itu tapi aku hanya bisa tersenyum dan
tak bertanya lagi. Aku masih sayang dengan wajahku, bisa bolong-bolong wajahku
karena tatapan laser ibu.
Ayah sudah
bersiap, dengan baju bahan kaos berwarna yang sama dengan baju ibu, warna merah
muda. Semua sudah masuk kedalam mobil, “Sudah siap liburan? ” tanya ayah dan
hanya di jawab antusias oleh ibu dan Heru. Ayah mulai menyalakan mobil,
kemudian menyalakan mobil lagi, menyalakannya lagi, lagi dan lagi. Loh ada yang
aneh…“Sepertinya mogok..” kata ayah. “Kok bisa mogok sih yah? ” kata ibu, ibu
mulai lapar eh panik maksudnya.”Mungkin sudah waktunya..” kata ayah.
Ayah sedang
sibuk menelpon seseorang, “Tidak bisa ya.. iya mogok, yasudah kalau begitu” kata
ayah mengakhiri teleponnya. “Gimana yah? ” tanya ibu. Mata ibu berkaca-kaca
membuat ayah gelisah melihatnya. “Bu, jangan nangis..nanti dandanannya hancur” kata
ayah, ibu langsung meraba-raba isi tasnya dan mengeluarkan cermin. “Aduh..
untung saja ayah ingatkan.. terima kasih ya ayah..” kata ibu tersenyum sambil
bercermin. Ayah merangkul ibu, “Iya bu, alat make up ibu itu mahal selain itu apapun untukmu sayang” kata ayah
tersenyum, membuat ibu mencubit pinggang ayah karna malu. Aku keluar dari mobil
sambil menggendong Heru, kak Yoga juga keluar dari mobil. Aku menurunkan Heru
dari gendonganku sedangkan kak Yoga langsung keluar rumah. “Mau kemana Yog? ” Tanya
ibu. “Kerumah Riski aja bu..” kata kak Yoga lalu menyebrang jalan. Aku
mengeluarkan kunci rumah dari tasku, memasukan kunci ke lubang kunci dan
memutarnya. Aku membuka pintu rumah, “Mau kemana Ra? ” Tanya ayah. “Mau ke
Paris..” kataku. Ibu menatapku, “Ke Paris? Ibu ikut ya” kata ibu, “Boleh.. bawa
guling dan bantal ya bu” kataku. “Buat apa? ” kata ibu heran. “Untuk mimpi ke
Paris..” kataku langsung masuk kedalam rumah. Terdengar teriakan ibu dari luar
rumah. Jadi, ini cerita jalan-jalan kami yang batal untuk kesekian kalinya.
Tidak ada komentar :
Posting Komentar