Kamis, 05 Mei 2016

“IBU, SEMOGA ENGKAU BAHAGIA”


“Ibu.. hiks maafkan Mia..”
“Dasar anak kurang ajar! Aku gak sudi jadi ibumu.. lebih baik kamu mati!”
“Ibu maafkan Mia hiks,Mia janji gak nakal lagi… tolong jangan pukul Mia lagi”
“Enyah kau!”
Seorang gadis terbangun dari tidurnya dengan keringat sebesar jagung di kening. Ia usap keringat di keningnya dengan telapak tangan, lalu meraih gelas yang berisikan air putih di meja samping tempat tidur. Ia minum sampai tinggal setengah lalu menaruh gelas itu kembali. Kemudian, ia menyenderkan punggung di kepala kasur yang ia tiduri. Ia mengacak rambut panjangnya, kemudian melihat jam di dinding kamar. Ternyata masih jam 3 pagi, terlalu pagi jika ia pergi bekerja. Ia menekuk kaki dan memeluknya. Mimpi tadi adalah sepenggal kenangan masa lalu miliknya dengan satu-satunya orang yang ada di hidupnya dulu. Seseorang yang ia sayang dan cinta dulu. Seseorang yang seharusnya memberikan ia kehangatan dan rasa nyaman. Seseorang yang ia panggil ibu. Kejadian itu dimulai ketika ia berusia 10 tahun.
000
Seorang gadis kecil sedang bermain dengan beberapa anak perempuan sebayanya. Ia bermain di salah satu rumah warga di kampung tempat tinggalnya. Memainkan permainan yang biasa anak seumurannya bermain, permainan masak-masakan. Canda tawa terdengar dari mulut mereka. Kemudian, seorang wanita menghampiri mereka dan seketika mereka terdiam melihat wanita itu. “Bagus ya kamu… aku berkerja di pasar dari pagi, kamu malah enak-enakan main sama teman-temanmu. Aku ini capek, jadi anak berguna sedikit bisa tidak sih” kata wanita itu. Dari nada bicaranya terdengar sangat tidak bersahabat. “Mia sudah masak bu…” kata gadis kecil itu pada wanita tersebut yang ternyata adalah ibunya. “KAMU BERANI LAWAN AKU!” kata ibu Mia dengan nada tinggi. “Ti-tidak bu… Mia akan pulang” kata Mia, nama gadis kecil itu. “Cepat…”kata ibu Mia lalu membalikkan badannya dan pergi. Mia pamit pulang kepada teman-temannya yang menatap Mia kasihan.
000
Ibu Mia sedang memakan makan siangnya di meja makan. Ia memakan tanpa menyuruh Mia ikut makan dengannya. Ikan yang dimasak oleh Mia telah habis ia makan. Hanya tinggal 2 potong tahu dan segenggam nasi di meja makan tersebut. Tanpa kata ibu Mia meninggalkan piring kotor di meja makan tersebut.
Mia memakan apa yang tersisa di meja makan itu dengan lahap. Dari semalam perutnya tidak diisi dengan makanan hanya segelas air putih yang ia minum. Namun ia tidak menangis atau merengek agar diberi makanan karena takut di pukul oleh ibunya.
Setelah mencuci piring kotor setelah makan, ia berjalan ke sumur yang terletak di bawah rumahnya. Sumur itu adalah satu-satunya tempat mandi di kampung itu. Ia membawa 2 ember untuk diisi ke dalam tempat air dirumahnya.
000
Tidak terasa Mia sudah berumur 14 tahun, ia tumbuh menjadi anak gadis yang cantik dan ceria. Mia memiliki banyak teman entah itu laki-laki atau perempuan di kampungnya. Ia dikenal sebagai gadis tercantik disana. Semua warga kampong menyayangi Mia.
Namun untuk ibunya, Mia adalah anak yang tidak diinginkan olehnya. Mia selalu terlihat menyebalkan dimatanya, beragam cara ia lakukan untuk menyingkirkan Mia dari hidupnya namun selalu gagal. Sampai ketika Mia pulang terlalu sore dari membantu ibu dari temannya untuk membuka kue pesanan, disana lah Mia mengutarakan perasaannya.
“Darimana saja kamu? Masih ingat pulang ternyata” kata ibu Mia sambil berkacak pinggang ketika Mia membuka pintu rumah. “Tadi Mia membantu ibu Oni membuat kue pesanan bu…” kata Mia sambil menyerahkan beberapa uang lima ribu rupiah kepada ibunya. Ibu Mia menepis tangan Mia yang menyebabkan uang itu jatuh di lantai. Mia tidak berkata, ia berjongkok untuk memungut uang tersebut. Tanpa diduga, ibu Mia mendorong bahu Mia sampai tersungkur di lantai. “Ibu… kenapa ibu sangat membenci Mia? Apa salah Mia pada ibu?” kata Mia, di kedua matanya sudah tergenang airmata yang siap tumpah mengalir di pipinya. “Kamu tau apa yang membuat aku benci padamu? Kamu adalah anak yang tidak aku inginkan… kehadiranmu merusak segalanya, keluargaku menyingkirkanku, orang yang aku cintai tidak jadi menikahiku itu semua salahmu…” kata ibu Mia dengan nada tinggi, raut wajahnya mengeras menandakan ia sedang dalam keadaan marah besar. Sorot matanya memandang Mia tajam seakan menusuk mati Mia. “Kenapa ibu tidak membunuhku saja ketika aku masih di kandungan ibu?” kata Mia. Ibu Mia tertawa, tawa seakan mengejek perkataan Mia. “Sudah aku lakukan… tapi semua sia-sia…” kata ibu Mia. Mia memnadang ibunya dengan tatapan sedih. Ibu Mia mencibir, “Asal kamu tau saja… aku paling membenci matamu, matamu itu mirip mata laki-laki bejat yang memperkosaku dulu yang membuat hidupku hancur” kata ibu Mia. Ibu Mia mengambil segelas air putih dan menyiramkannya ke wajah Mia dan ia kemudian pergi berlalu keluar dari rumah, meninggalkan Mia yang menangis pilu.
Mia memasukkan beberapa potong pakaiannya kedalam tas ransel lusuh miliknya. Ia berencana meninggalkan rumah itu dan terbebas dari ibunya. Ia keluar rumah dan menjauh dengan berjalan cepat, sesekali ia mengusai lelehan airmata yang mengalir di pipinya. Kemudian dia menghentikan langkah kakinya, ia menoleh kebelakang dan berkata “Semoga kepergianku ini membuat ibu bahagia”
000
Kini ia sudah mengubur dan tidak ingin mengingat kembali, mengingat masa lalunya yang menyakitkan sebelum ia memutuskan pergi menjauh dan meraih kebebasan. Ia kini tinggal dengan ayah kandungnya, seseorang yang dikatakan oleh ibunya telah menghancurkan hidup beliau.

Namun dari ayahnya lah ia mendapatkan rasa nyaman dan kehangatan yang ia inginkan. Dari keluarga kecil ayahnya inilah ia bisa berbahagia. Di umur ke 26 tahunnya, ia bisa merasakn cinta dan kasih sayang dari orang lain yang akan menjadi suaminya kelak. Walau beberapa waktu ia masih memikirkan ibu kandungnya, memikirkan apakah ibunya bahagia dengan kepergiannya?

Tidak ada komentar :

Posting Komentar