Misteri
Tukang Ompol
Hari minggu ini aku sendirian di rumah.
Ayah pergi bekerja ke luar kota, ibu dan Heru pergi kerumah nenek, sedangkan
kak Yoga jalan bersama temannya. Rumah terasa sangat tenang di hari ini. Aku
bersantai di sofa ruang tv, aku menonton kartun kesukaanku.
Ting tong
Bel
rumah berbunyi, ‘Palingan nawarin panci’ pikirku tanpa memperdulikan bel rumah
yang kembali berbunyi. Dengan malas, aku bangkit dari sofa dan berjalan menuju
pintu rumah. Aku buka pintu rumah dan menampilkan kak Yuni yang tersenyum lebar
melihatku. Di bawah kakinya ada kedua anaknya, si Raski dan Raska. “Hai Ra,
maaf ya kakak ganggu acara santaimu. Dirumah ada siapa? “ tanya kak Yuni. “Ira
sendirian kak…” kataku. “Duh… maaf banget ya, kakak mau pergi ke kantor ada
kerjaan… kakak titip Raski dan Raska ya, papa mereka tadi pergi mincing sama
temannya” kata kak Yuni. Sebenarnya aku malas menjaga mereka berdua. Terakhir
mereka kesini dan menginap, mereka mengompol dahsyat di kasurku. “Iya gak
masalah kok kak…” kataku mengiyakan. “Bagus… nah Raski jaga adikmu dengan baik,
kalian tidak boleh merepotkan tante Ira ya” kata kak Yuni kepada kedua anknya.
Raska hanya mengangguk sedangkan Raski memberikan senyuman lebarnya. Kemudian,
kak Yuni pergi berpamitan padaku.
Sebenarnya
aku penasaran, diantara mereka berdua siapa yang masih mengompol? Walau ibuku
yakin mereka berdua masih mengompol karna kedua celana mereka basah ketika
tertidur. Tapi keyakinanku berbeda dengan ibu, aku sangat yakin salah satu
mereka yang mengompol. “Tante, Raski lapar…” kata Raski memandangku. “Ada roti,
kalian mau roti? “ tanyaku. Raska mengangguk sedangkan Raski menggeleng, “Raski
mau makan nasi…” kata Raski. “Tante lagi nda masak nasi…” kataku. “Raski mau
nasi… nanti tante bakal Raski laporkan ke nenek” kata Raski. Nenek yang dia
maksud itu adalah ibuku, walau ibu bilang ke mereka kalau dia belum cukup tua
menjadi nenek tapi tetap saja mereka panggil nenek. “Iya deh, tante masak nasi
dulu” kataku menyerah kalau sudah menggunakan nama ‘sakti’ itu.
Mereka
sudah makan, sebentar lagi mereka akan tertidur. Tunggu, bukannya aku memasukan
obat tidur ya di makanan mereka tapi kebiasaan mereka seperti itu apalagi aku
melihat Raski diam saja. “Kalian sudah mengantuk? “ tanyaku. Mereka berdua
menganggukkan kepala. Aku menyuruh mereka cuci kaki terlebih dahulu sebelum
menggiring mereka masuk ke kamarku. Bagaimana nasib kasurku nanti? Ah tenang
saja, mereka tidur di kasur kecil yang ibu belikan sehari setelah mereka
menginap, setelah aku merengek sambil berguling-guling dibawah kaki ibu,
setelah kak Yoga tertawa terbahak melihatku begitupada akhirnya ibu mengiyakan
juga.
Ngomong-ngomong
sudah jam 3 sore kok mereka belum bangun juga ya. ‘aku intip dulu ah’ pikirku. Aku
membuka sedikit pintu kamarku, pelan tanpa suara agar tidak membangunkan
mereka. Tapi tubuhku kaku setelah mengintip mereka dan mataku melebar. Dia,
Raski ternyata si pengompol sedang asik mengencingi celana asiknya si Raska.
Aku menutup pintu perlahan takut mengganggu aktifitas Raski. Aku langsung
buru-buru pergi dari situ menuju dapur dan mengambil gelas. Aku tuangkan air
putih di gelas lalu meminumnya sampai habis. “Tadi itu…. Astaga! Akhirnya aku
berhasil mengetahuinya… yey!” kataku senang, sangking senangnya aku menari-nari
di depan kulkas. Setelah sadar akan kelakuanku, aku pergi duduk di sofa ruang
tv. Aku menyalakan tv, niat awalnya mau menonton tapi aku malah memikirkan jika
nanti Raski masuk taman kanak-kanak bagaimana kalau ia masih mengompol? Ah tapi
dia kan mengompol kalau tidur. Tapi kalau sekolahnya ada waktu tidur siang
bersama bagaimana? Aku gak bisa bayangkan Raski akan mengompoli celana
anak-anak satu ruangan agar tidak ketahuan kalau dia mengompol. Cukup cerdik
juga dia… “Ibu pulang…” ah itu suara ibu. “Ibu sudah pulang? “ kataku. “Mukamu
kenapa? Kok kayak lagi senang gitu sih” tanya ibu heran. “Ah perasaan ibu aja…
sini Ira bantu bawa tas ibu” kataku. “Kamu gak kerasukan roh orang rajin kan
pas sendirian di rumah? “ tanya ibu. “Aku gak sendirian bu, ada Raski dan Raska
kok lagi tidur” kataku. “Ah pasti mereka mengompol lagi…” desah ibu. “Ah
ngomong-ngomong tentang ompol…” kataku. “Kenapa? ‘ tanya ibu. Aku menggeleng,
“Gak papa, aku haus saja kok” kataku tersenyum. “Aneh… sudah bawain ke dapur
sana” kata ibu. “Oke…” kataku. Biarlah ibu mencari tahu sendiri hihihi