“Ibu.. hiks maafkan Mia..”
“Dasar anak kurang ajar! Aku gak
sudi jadi ibumu.. lebih baik kamu mati!”
“Ibu maafkan Mia hiks,Mia janji gak
nakal lagi… tolong jangan pukul Mia lagi”
“Enyah kau!”
Seorang
gadis terbangun dari tidurnya dengan keringat sebesar jagung di kening. Ia usap
keringat di keningnya dengan telapak tangan, lalu meraih gelas yang berisikan
air putih di meja samping tempat tidur. Ia minum sampai tinggal setengah lalu
menaruh gelas itu kembali. Kemudian, ia menyenderkan punggung di kepala kasur
yang ia tiduri. Ia mengacak rambut panjangnya, kemudian melihat jam di dinding
kamar. Ternyata masih jam 3 pagi, terlalu pagi jika ia pergi bekerja. Ia
menekuk kaki dan memeluknya. Mimpi tadi adalah sepenggal kenangan masa lalu
miliknya dengan satu-satunya orang yang ada di hidupnya dulu. Seseorang yang ia
sayang dan cinta dulu. Seseorang yang seharusnya memberikan ia kehangatan dan
rasa nyaman. Seseorang yang ia panggil ibu. Kejadian itu dimulai ketika ia
berusia 10 tahun.
000
Seorang
gadis kecil sedang bermain dengan beberapa anak perempuan sebayanya. Ia bermain
di salah satu rumah warga di kampung tempat tinggalnya. Memainkan permainan
yang biasa anak seumurannya bermain, permainan masak-masakan. Canda tawa
terdengar dari mulut mereka. Kemudian, seorang wanita menghampiri mereka dan
seketika mereka terdiam melihat wanita itu. “Bagus ya kamu… aku berkerja di
pasar dari pagi, kamu malah enak-enakan main sama teman-temanmu. Aku ini capek,
jadi anak berguna sedikit bisa tidak sih” kata wanita itu. Dari nada bicaranya
terdengar sangat tidak bersahabat. “Mia sudah masak bu…” kata gadis kecil itu
pada wanita tersebut yang ternyata adalah ibunya. “KAMU BERANI LAWAN AKU!” kata
ibu Mia dengan nada tinggi. “Ti-tidak bu… Mia akan pulang” kata Mia, nama gadis
kecil itu. “Cepat…”kata ibu Mia lalu membalikkan badannya dan pergi. Mia pamit
pulang kepada teman-temannya yang menatap Mia kasihan.
000
Ibu
Mia sedang memakan makan siangnya di meja makan. Ia memakan tanpa menyuruh Mia
ikut makan dengannya. Ikan yang dimasak oleh Mia telah habis ia makan. Hanya
tinggal 2 potong tahu dan segenggam nasi di meja makan tersebut. Tanpa kata ibu
Mia meninggalkan piring kotor di meja makan tersebut.
Mia
memakan apa yang tersisa di meja makan itu dengan lahap. Dari semalam perutnya
tidak diisi dengan makanan hanya segelas air putih yang ia minum. Namun ia
tidak menangis atau merengek agar diberi makanan karena takut di pukul oleh
ibunya.
Setelah
mencuci piring kotor setelah makan, ia berjalan ke sumur yang terletak di bawah
rumahnya. Sumur itu adalah satu-satunya tempat mandi di kampung itu. Ia membawa
2 ember untuk diisi ke dalam tempat air dirumahnya.
000
Tidak
terasa Mia sudah berumur 14 tahun, ia tumbuh menjadi anak gadis yang cantik dan
ceria. Mia memiliki banyak teman entah itu laki-laki atau perempuan di
kampungnya. Ia dikenal sebagai gadis tercantik disana. Semua warga kampong
menyayangi Mia.
Namun
untuk ibunya, Mia adalah anak yang tidak diinginkan olehnya. Mia selalu
terlihat menyebalkan dimatanya, beragam cara ia lakukan untuk menyingkirkan Mia
dari hidupnya namun selalu gagal. Sampai ketika Mia pulang terlalu sore dari
membantu ibu dari temannya untuk membuka kue pesanan, disana lah Mia
mengutarakan perasaannya.
“Darimana
saja kamu? Masih ingat pulang ternyata” kata ibu Mia sambil berkacak pinggang
ketika Mia membuka pintu rumah. “Tadi Mia membantu ibu Oni membuat kue pesanan
bu…” kata Mia sambil menyerahkan beberapa uang lima ribu rupiah kepada ibunya.
Ibu Mia menepis tangan Mia yang menyebabkan uang itu jatuh di lantai. Mia tidak
berkata, ia berjongkok untuk memungut uang tersebut. Tanpa diduga, ibu Mia
mendorong bahu Mia sampai tersungkur di lantai. “Ibu… kenapa ibu sangat
membenci Mia? Apa salah Mia pada ibu?” kata Mia, di kedua matanya sudah tergenang
airmata yang siap tumpah mengalir di pipinya. “Kamu tau apa yang membuat aku
benci padamu? Kamu adalah anak yang tidak aku inginkan… kehadiranmu merusak
segalanya, keluargaku menyingkirkanku, orang yang aku cintai tidak jadi
menikahiku itu semua salahmu…” kata ibu Mia dengan nada tinggi, raut wajahnya
mengeras menandakan ia sedang dalam keadaan marah besar. Sorot matanya
memandang Mia tajam seakan menusuk mati Mia. “Kenapa ibu tidak membunuhku saja
ketika aku masih di kandungan ibu?” kata Mia. Ibu Mia tertawa, tawa seakan
mengejek perkataan Mia. “Sudah aku lakukan… tapi semua sia-sia…” kata ibu Mia.
Mia memnadang ibunya dengan tatapan sedih. Ibu Mia mencibir, “Asal kamu tau
saja… aku paling membenci matamu, matamu itu mirip mata laki-laki bejat yang
memperkosaku dulu yang membuat hidupku hancur” kata ibu Mia. Ibu Mia mengambil
segelas air putih dan menyiramkannya ke wajah Mia dan ia kemudian pergi berlalu
keluar dari rumah, meninggalkan Mia yang menangis pilu.
Mia
memasukkan beberapa potong pakaiannya kedalam tas ransel lusuh miliknya. Ia
berencana meninggalkan rumah itu dan terbebas dari ibunya. Ia keluar rumah dan
menjauh dengan berjalan cepat, sesekali ia mengusai lelehan airmata yang
mengalir di pipinya. Kemudian dia menghentikan langkah kakinya, ia menoleh
kebelakang dan berkata “Semoga kepergianku ini membuat ibu bahagia”
000
Kini
ia sudah mengubur dan tidak ingin mengingat kembali, mengingat masa lalunya
yang menyakitkan sebelum ia memutuskan pergi menjauh dan meraih kebebasan. Ia
kini tinggal dengan ayah kandungnya, seseorang yang dikatakan oleh ibunya telah
menghancurkan hidup beliau.
Namun
dari ayahnya lah ia mendapatkan rasa nyaman dan kehangatan yang ia inginkan.
Dari keluarga kecil ayahnya inilah ia bisa berbahagia. Di umur ke 26 tahunnya,
ia bisa merasakn cinta dan kasih sayang dari orang lain yang akan menjadi
suaminya kelak. Walau beberapa waktu ia masih memikirkan ibu kandungnya,
memikirkan apakah ibunya bahagia dengan kepergiannya?