Minggu, 23 Oktober 2016

PUISI

KAKAK
By Mahdalita Shabrina

Sejak awal dunia terlalu besar untukku
Seakan dunia dapat menghantamku kapanpun ia mau
Seakan ombak dapat menamparku dengan keras
Seakan tanah dapat menguburku sangat dalam
Tapi denganmu aku baik-baik saja
Ketika bersembunyi, kau datang menemukanku
Ketika terbakar, kau datang menyejukanku
Ketika membeku, kau datang menghangatkanku
Kau lah yang pertama datang untuk menghapus airmata walau semua tak tahu
Kau bahkan dapat meleburkan hatiku yang sekeras baja
Kau memulai dengan hangat
Kau memulai dengan lembut
Membawaku terbang menuju kenyamanan yang kubutuhkan
Membuatku mengembangkan perasaanku untuk menjadi diriku sendiri
Kakak

Kau membuatku mulai percaya jika saudara tak perlu sedarah

Senin, 17 Oktober 2016

PUISI




AKU YANG TERLUPAKAN





Karya Mahdalita Shabrina
Tahun lalu kita tak terpisahkan
Seharian, semalaman
Kamu tak pernah melepasku
Ada kau, ada aku
Bahkan kelelahanku membuat porak-poranda pikiranmu
                                                Kini semua berubah
                                                Kau membiarkanku tergeletak begitu saja
                                                Kehangatanmu, senyuman indahmu
                                                Kini tinggal kenangan saja
                                                Seakan ku tak pernah hadir dalam kehidupanmu
Tapi siapa aku?
Aku ini hanya sebuah barang terlupakan
Tergantikan dengan sosok baru, aku kau abaikan
Ah sudahlah!

Mungkin kecanggihanku sudah tak bisa memuaskanmu 

Sabtu, 21 Mei 2016

Cerita Devira

Misteri Tukang Ompol
Hari minggu ini aku sendirian di rumah. Ayah pergi bekerja ke luar kota, ibu dan Heru pergi kerumah nenek, sedangkan kak Yoga jalan bersama temannya. Rumah terasa sangat tenang di hari ini. Aku bersantai di sofa ruang tv, aku menonton kartun kesukaanku.
Ting tong
            Bel rumah berbunyi, ‘Palingan nawarin panci’ pikirku tanpa memperdulikan bel rumah yang kembali berbunyi. Dengan malas, aku bangkit dari sofa dan berjalan menuju pintu rumah. Aku buka pintu rumah dan menampilkan kak Yuni yang tersenyum lebar melihatku. Di bawah kakinya ada kedua anaknya, si Raski dan Raska. “Hai Ra, maaf ya kakak ganggu acara santaimu. Dirumah ada siapa? “ tanya kak Yuni. “Ira sendirian kak…” kataku. “Duh… maaf banget ya, kakak mau pergi ke kantor ada kerjaan… kakak titip Raski dan Raska ya, papa mereka tadi pergi mincing sama temannya” kata kak Yuni. Sebenarnya aku malas menjaga mereka berdua. Terakhir mereka kesini dan menginap, mereka mengompol dahsyat di kasurku. “Iya gak masalah kok kak…” kataku mengiyakan. “Bagus… nah Raski jaga adikmu dengan baik, kalian tidak boleh merepotkan tante Ira ya” kata kak Yuni kepada kedua anknya. Raska hanya mengangguk sedangkan Raski memberikan senyuman lebarnya. Kemudian, kak Yuni pergi berpamitan padaku.
            Sebenarnya aku penasaran, diantara mereka berdua siapa yang masih mengompol? Walau ibuku yakin mereka berdua masih mengompol karna kedua celana mereka basah ketika tertidur. Tapi keyakinanku berbeda dengan ibu, aku sangat yakin salah satu mereka yang mengompol. “Tante, Raski lapar…” kata Raski memandangku. “Ada roti, kalian mau roti? “ tanyaku. Raska mengangguk sedangkan Raski menggeleng, “Raski mau makan nasi…” kata Raski. “Tante lagi nda masak nasi…” kataku. “Raski mau nasi… nanti tante bakal Raski laporkan ke nenek” kata Raski. Nenek yang dia maksud itu adalah ibuku, walau ibu bilang ke mereka kalau dia belum cukup tua menjadi nenek tapi tetap saja mereka panggil nenek. “Iya deh, tante masak nasi dulu” kataku menyerah kalau sudah menggunakan nama ‘sakti’ itu.
            Mereka sudah makan, sebentar lagi mereka akan tertidur. Tunggu, bukannya aku memasukan obat tidur ya di makanan mereka tapi kebiasaan mereka seperti itu apalagi aku melihat Raski diam saja. “Kalian sudah mengantuk? “ tanyaku. Mereka berdua menganggukkan kepala. Aku menyuruh mereka cuci kaki terlebih dahulu sebelum menggiring mereka masuk ke kamarku. Bagaimana nasib kasurku nanti? Ah tenang saja, mereka tidur di kasur kecil yang ibu belikan sehari setelah mereka menginap, setelah aku merengek sambil berguling-guling dibawah kaki ibu, setelah kak Yoga tertawa terbahak melihatku begitupada akhirnya ibu mengiyakan juga.

            Ngomong-ngomong sudah jam 3 sore kok mereka belum bangun juga ya. ‘aku intip dulu ah’ pikirku. Aku membuka sedikit pintu kamarku, pelan tanpa suara agar tidak membangunkan mereka. Tapi tubuhku kaku setelah mengintip mereka dan mataku melebar. Dia, Raski ternyata si pengompol sedang asik mengencingi celana asiknya si Raska. Aku menutup pintu perlahan takut mengganggu aktifitas Raski. Aku langsung buru-buru pergi dari situ menuju dapur dan mengambil gelas. Aku tuangkan air putih di gelas lalu meminumnya sampai habis. “Tadi itu…. Astaga! Akhirnya aku berhasil mengetahuinya… yey!” kataku senang, sangking senangnya aku menari-nari di depan kulkas. Setelah sadar akan kelakuanku, aku pergi duduk di sofa ruang tv. Aku menyalakan tv, niat awalnya mau menonton tapi aku malah memikirkan jika nanti Raski masuk taman kanak-kanak bagaimana kalau ia masih mengompol? Ah tapi dia kan mengompol kalau tidur. Tapi kalau sekolahnya ada waktu tidur siang bersama bagaimana? Aku gak bisa bayangkan Raski akan mengompoli celana anak-anak satu ruangan agar tidak ketahuan kalau dia mengompol. Cukup cerdik juga dia… “Ibu pulang…” ah itu suara ibu. “Ibu sudah pulang? “ kataku. “Mukamu kenapa? Kok kayak lagi senang gitu sih” tanya ibu heran. “Ah perasaan ibu aja… sini Ira bantu bawa tas ibu” kataku. “Kamu gak kerasukan roh orang rajin kan pas sendirian di rumah? “ tanya ibu. “Aku gak sendirian bu, ada Raski dan Raska kok lagi tidur” kataku. “Ah pasti mereka mengompol lagi…” desah ibu. “Ah ngomong-ngomong tentang ompol…” kataku. “Kenapa? ‘ tanya ibu. Aku menggeleng, “Gak papa, aku haus saja kok” kataku tersenyum. “Aneh… sudah bawain ke dapur sana” kata ibu. “Oke…” kataku. Biarlah ibu mencari tahu sendiri hihihi

Jumat, 06 Mei 2016

Cerita Devira

Pelaku Pencuri Eskrim

            Aku sudah bersiap untuk berangkat sekolah, “Bu kak Yoga mana? ” tanyaku. “Kakakmu lagi sakit..” kata ibu. “Sakit? Tadi malam perasaanku biasa aja deh” kataku. Ibu mengangkat bahunya, “Tadi pagi ibu periksa demam, baru aja masuk kamar lagi” kata ibu. “Oh yasudah kalau gitu aku berangkat dulu ya bu” kataku pamit.
            Hari ini aku hanya pelajaran olahraga dan kesenian. Jadi pulang lebih cepat dari biasanya. Rumahku dan sekolah lumayan jauh, naik angkot satu kali dan berjalan kaki 15 menit sudah sampai di depan rumah. Tapi hari ini aku rasanya mau sampai rumah lebih cepat dan aku menundukkan kepalaku. ‘Semoga saja dia tidak lihat’ batinku menjerit. “Oh halo manis…”
            Terlambat.
            Aku menoleh dan memberikan senyuman terpaksaku. “Oh kak Riski…” kataku. “Iya ini calon suami masa depanmu yang memanggil” kata kak Riski tersenyum. Gila, siapa yang mau jadi istri masa depanmu hah? . Lagi-lagi aku hanya tersenyum ‘terpaksa’. “Oh iya, ini buku catatan untuk Yoga… maaf ya aku nda bisa lama, calon suamimu ini harus main futsal… bye sayangku” kata kak Riski dan mengedipkan sebelah matanya kepadaku dan pergi. Tolong siapa saja bawakan aku kantung plastik sekarang!
            ‘Ya ampun… sebaiknya aku putar jalan saja mulai sekarang atau aku meminta ibu untuk segera pindah rumah’ pikirku.
            “Aku pulang…” kataku. Rumah terlihat sepi, “Kak Yog… ada titipan dari kak Riski…” kataku mengetuk pintu kamar kak Yoga. Tidak ada jawaban. “Kak, aku masuk ya…” kataku lagi lalu membuka pintu kamar kak Yoga. Ketika aku berhasil membukanya, aku langsung menatap kak Yoga yang sedang tidur. ‘Kasihan sekali…’ pikirku. Ketika aku akan pergi dari kamar kak Yoga, aku menendang sesuatu. Aku melihat kebawah kakiku, “Lho ini kan?!” kataku sedikit berteriak. Ini kan es krim milikku yang hilang 2 hari yang lalu, jadi kak Yoga yang makan. Aku melihat kearah kak Yoga yang masih tertidur. ‘Awas ya kak’ pikirku.

            “Bu, liat sikat gigiku gak? ” tanya kak Yoga kepada ibu. “Ibu nda liat” kata ibu. “Kok tiba-tiba hilang ya, aku kan belum sikat gigi” kata kak Yoga. Kak Yoga kembali masuk kedalam kamar mandi. “Astaga… SIKAT GIGIKUUUUUU” teriak histeris kak Yoga. Aku tertawa di sofa ruang tv. Kak Yoga keluar kamar mandi, “Sikat gigiku yang malang…” kata kak Yoga sedih. Aku berjalan melewatinya, “Makanya lain kali jangan ambil eskrimku” kataku berlari memasuki kamar dan menguncinya. Pintu kamarku di gedor dari luar, “Awas ya kamu Ira…” kata kak Yoga.

Kamis, 05 Mei 2016

Cerita Devira

Batal berlibur
            Aku menguap lebar ketika keluar dari kamar. Di minggu pagi ini tidak biasanya rumah sudah berisik seperti ada acara sunatan. Ibu sudah mondar-mandir kesana kemari pada jam 8 pagi, kak Yoga sudah bangun dan Heru sudah mandi dengan bedak bayi yang tidak rapi menghiasi wajah bulatnya. Sekedar informasi, aku dan kak Yoga berbeda 2 tahun. Sekarang kak Yoga kelas 2 SMA, aku kelas 3 SMP dan Heru berusia 3 tahun.
            Aku duduk di sofa ruang keluarga sambil memperhatikan ibu yang sibuk dengan masakannya, aku tidak membantu ibu karena dapur adalah wilayah kekuasaan ibu, kalau kalian masih amatir sepertiku sebaiknya tidak kesana. Jika kalian penasaran, silahkan ke dapur dan beberapa detik kemudian kalian akan keluar terbirit-birit, kalau kalian beruntung kalian dalam keadaan utuh. Baiklah kita kembali. “Kak.. sebenarnya ada apa sih? ” tanyaku pada kak Yoga. “Kamu gak tau kalau hari ini kita jalan-jalan? ” kata kak Yoga. Aku menepuk jidatku, aku lupa kalau semalam ayah mengadakan rapat mendadak untuk memberitahukan kalau besok kita akan jalan-jalan. Besok kan berarti hari ini. Bukannya aku langsung pergi untuk bersiap tapi aku melihat ibu terlebih dahulu. Oh aman. Ibu masih sibuk memasak. Aku mulai berdiri dan menuju kamar tapi…
“Ira..” panggil ibu. Jidatku langsung berkeringat, kakiku terasa kesemutan ketika ibu memanggil. Dengan perlahan aku menoleh kearah ibu, ibu sudah memandangku tepat di mata seakan mata ibu menusuk mataku dengan pisau. “Iya bu..” kataku pelan. Ibu menarik nafas, kemudian...
“Kamu tau ini jam berapa? ” kata ibu, aku menganggukan kepala. “Kamu ingatkan semalam yang dikatakan oleh ayah..” kata ibu lagi, aku menganggukan kepala lagi. “ Jam 10 kita jalan-jalan, kamu belum mandinya, belum dandannya, belum sarapannya, belum malas-malasannya.. bla..bla bla..” ceramah ibu dimulai, aku hanya bisa mengheningkan cipta saja, menundukkan kepala dan berpikir yang dibicarakan ibu itu kegiatanku atau kegiatan ibu. Setelah memakan durasi 15 menit, ibu mulai tenang kembali. “Cepat mandi..” kata ibu akhirnya. Ibu kembali ke dapur, sedangkan aku langsung masuk ke kamar untuk bersiap.
Sudah pukul 10 pagi, ibu sudah siap dengan kacamata hitamnya. Kata ibu, dipantai pasti panas. Kalau panas ya bawa payung lah bu. Aku ingin menjawab seperti itu tapi aku hanya bisa tersenyum dan tak bertanya lagi. Aku masih sayang dengan wajahku, bisa bolong-bolong wajahku karena tatapan laser ibu.
Ayah sudah bersiap, dengan baju bahan kaos berwarna yang sama dengan baju ibu, warna merah muda. Semua sudah masuk kedalam mobil, “Sudah siap liburan? ” tanya ayah dan hanya di jawab antusias oleh ibu dan Heru. Ayah mulai menyalakan mobil, kemudian menyalakan mobil lagi, menyalakannya lagi, lagi dan lagi. Loh ada yang aneh…“Sepertinya mogok..” kata ayah. “Kok bisa mogok sih yah? ” kata ibu, ibu mulai lapar eh panik maksudnya.”Mungkin sudah waktunya..” kata ayah.

Ayah sedang sibuk menelpon seseorang, “Tidak bisa ya.. iya mogok, yasudah kalau begitu” kata ayah mengakhiri teleponnya. “Gimana yah? ” tanya ibu. Mata ibu berkaca-kaca membuat ayah gelisah melihatnya. “Bu, jangan nangis..nanti dandanannya hancur” kata ayah, ibu langsung meraba-raba isi tasnya dan mengeluarkan cermin. “Aduh.. untung saja ayah ingatkan.. terima kasih ya ayah..” kata ibu tersenyum sambil bercermin. Ayah merangkul ibu, “Iya bu, alat make up ibu itu mahal selain itu apapun untukmu sayang” kata ayah tersenyum, membuat ibu mencubit pinggang ayah karna malu. Aku keluar dari mobil sambil menggendong Heru, kak Yoga juga keluar dari mobil. Aku menurunkan Heru dari gendonganku sedangkan kak Yoga langsung keluar rumah. “Mau kemana Yog? ” Tanya ibu. “Kerumah Riski aja bu..” kata kak Yoga lalu menyebrang jalan. Aku mengeluarkan kunci rumah dari tasku, memasukan kunci ke lubang kunci dan memutarnya. Aku membuka pintu rumah, “Mau kemana Ra? ” Tanya ayah. “Mau ke Paris..” kataku. Ibu menatapku, “Ke Paris? Ibu ikut ya” kata ibu, “Boleh.. bawa guling dan bantal ya bu” kataku. “Buat apa? ” kata ibu heran. “Untuk mimpi ke Paris..” kataku langsung masuk kedalam rumah. Terdengar teriakan ibu dari luar rumah. Jadi, ini cerita jalan-jalan kami yang batal untuk kesekian kalinya.

Cerita Devira

Hai namaku Devira Putri Gemilang, biasa dipanggil Ira oleh ibuku. Aku adalah anak kedua dari tiga bersaudara, satu-satunya anak perempuan di keluargaku. Kakak laki-lakiku benama Yoga Putra Gemilang, sedangkan adik laki-lakiku bernama Heru Putra Gemilang. Gemilang? Namaku dan kedua saudaraku berakhir dengan nama Gemilang. Gemilang adalah nama ayah kami, Gemilang Kurniawan. Ayah adalah seorang arsitek di kota yang kami tinggali. Ibu kami bernama Tania Dewita, seorang ibu rumah tangga yang kesehariannya bergosip di tukang sayur keliling pada pagi hari dengan daster. Nah ini adalah keseharianku dengan keempat anggota keluargaku. Eits tapi aku tidur dulu sebelum bercerita. hehehe bye

“IBU, SEMOGA ENGKAU BAHAGIA”


“Ibu.. hiks maafkan Mia..”
“Dasar anak kurang ajar! Aku gak sudi jadi ibumu.. lebih baik kamu mati!”
“Ibu maafkan Mia hiks,Mia janji gak nakal lagi… tolong jangan pukul Mia lagi”
“Enyah kau!”
Seorang gadis terbangun dari tidurnya dengan keringat sebesar jagung di kening. Ia usap keringat di keningnya dengan telapak tangan, lalu meraih gelas yang berisikan air putih di meja samping tempat tidur. Ia minum sampai tinggal setengah lalu menaruh gelas itu kembali. Kemudian, ia menyenderkan punggung di kepala kasur yang ia tiduri. Ia mengacak rambut panjangnya, kemudian melihat jam di dinding kamar. Ternyata masih jam 3 pagi, terlalu pagi jika ia pergi bekerja. Ia menekuk kaki dan memeluknya. Mimpi tadi adalah sepenggal kenangan masa lalu miliknya dengan satu-satunya orang yang ada di hidupnya dulu. Seseorang yang ia sayang dan cinta dulu. Seseorang yang seharusnya memberikan ia kehangatan dan rasa nyaman. Seseorang yang ia panggil ibu. Kejadian itu dimulai ketika ia berusia 10 tahun.
000
Seorang gadis kecil sedang bermain dengan beberapa anak perempuan sebayanya. Ia bermain di salah satu rumah warga di kampung tempat tinggalnya. Memainkan permainan yang biasa anak seumurannya bermain, permainan masak-masakan. Canda tawa terdengar dari mulut mereka. Kemudian, seorang wanita menghampiri mereka dan seketika mereka terdiam melihat wanita itu. “Bagus ya kamu… aku berkerja di pasar dari pagi, kamu malah enak-enakan main sama teman-temanmu. Aku ini capek, jadi anak berguna sedikit bisa tidak sih” kata wanita itu. Dari nada bicaranya terdengar sangat tidak bersahabat. “Mia sudah masak bu…” kata gadis kecil itu pada wanita tersebut yang ternyata adalah ibunya. “KAMU BERANI LAWAN AKU!” kata ibu Mia dengan nada tinggi. “Ti-tidak bu… Mia akan pulang” kata Mia, nama gadis kecil itu. “Cepat…”kata ibu Mia lalu membalikkan badannya dan pergi. Mia pamit pulang kepada teman-temannya yang menatap Mia kasihan.
000
Ibu Mia sedang memakan makan siangnya di meja makan. Ia memakan tanpa menyuruh Mia ikut makan dengannya. Ikan yang dimasak oleh Mia telah habis ia makan. Hanya tinggal 2 potong tahu dan segenggam nasi di meja makan tersebut. Tanpa kata ibu Mia meninggalkan piring kotor di meja makan tersebut.
Mia memakan apa yang tersisa di meja makan itu dengan lahap. Dari semalam perutnya tidak diisi dengan makanan hanya segelas air putih yang ia minum. Namun ia tidak menangis atau merengek agar diberi makanan karena takut di pukul oleh ibunya.
Setelah mencuci piring kotor setelah makan, ia berjalan ke sumur yang terletak di bawah rumahnya. Sumur itu adalah satu-satunya tempat mandi di kampung itu. Ia membawa 2 ember untuk diisi ke dalam tempat air dirumahnya.
000
Tidak terasa Mia sudah berumur 14 tahun, ia tumbuh menjadi anak gadis yang cantik dan ceria. Mia memiliki banyak teman entah itu laki-laki atau perempuan di kampungnya. Ia dikenal sebagai gadis tercantik disana. Semua warga kampong menyayangi Mia.
Namun untuk ibunya, Mia adalah anak yang tidak diinginkan olehnya. Mia selalu terlihat menyebalkan dimatanya, beragam cara ia lakukan untuk menyingkirkan Mia dari hidupnya namun selalu gagal. Sampai ketika Mia pulang terlalu sore dari membantu ibu dari temannya untuk membuka kue pesanan, disana lah Mia mengutarakan perasaannya.
“Darimana saja kamu? Masih ingat pulang ternyata” kata ibu Mia sambil berkacak pinggang ketika Mia membuka pintu rumah. “Tadi Mia membantu ibu Oni membuat kue pesanan bu…” kata Mia sambil menyerahkan beberapa uang lima ribu rupiah kepada ibunya. Ibu Mia menepis tangan Mia yang menyebabkan uang itu jatuh di lantai. Mia tidak berkata, ia berjongkok untuk memungut uang tersebut. Tanpa diduga, ibu Mia mendorong bahu Mia sampai tersungkur di lantai. “Ibu… kenapa ibu sangat membenci Mia? Apa salah Mia pada ibu?” kata Mia, di kedua matanya sudah tergenang airmata yang siap tumpah mengalir di pipinya. “Kamu tau apa yang membuat aku benci padamu? Kamu adalah anak yang tidak aku inginkan… kehadiranmu merusak segalanya, keluargaku menyingkirkanku, orang yang aku cintai tidak jadi menikahiku itu semua salahmu…” kata ibu Mia dengan nada tinggi, raut wajahnya mengeras menandakan ia sedang dalam keadaan marah besar. Sorot matanya memandang Mia tajam seakan menusuk mati Mia. “Kenapa ibu tidak membunuhku saja ketika aku masih di kandungan ibu?” kata Mia. Ibu Mia tertawa, tawa seakan mengejek perkataan Mia. “Sudah aku lakukan… tapi semua sia-sia…” kata ibu Mia. Mia memnadang ibunya dengan tatapan sedih. Ibu Mia mencibir, “Asal kamu tau saja… aku paling membenci matamu, matamu itu mirip mata laki-laki bejat yang memperkosaku dulu yang membuat hidupku hancur” kata ibu Mia. Ibu Mia mengambil segelas air putih dan menyiramkannya ke wajah Mia dan ia kemudian pergi berlalu keluar dari rumah, meninggalkan Mia yang menangis pilu.
Mia memasukkan beberapa potong pakaiannya kedalam tas ransel lusuh miliknya. Ia berencana meninggalkan rumah itu dan terbebas dari ibunya. Ia keluar rumah dan menjauh dengan berjalan cepat, sesekali ia mengusai lelehan airmata yang mengalir di pipinya. Kemudian dia menghentikan langkah kakinya, ia menoleh kebelakang dan berkata “Semoga kepergianku ini membuat ibu bahagia”
000
Kini ia sudah mengubur dan tidak ingin mengingat kembali, mengingat masa lalunya yang menyakitkan sebelum ia memutuskan pergi menjauh dan meraih kebebasan. Ia kini tinggal dengan ayah kandungnya, seseorang yang dikatakan oleh ibunya telah menghancurkan hidup beliau.

Namun dari ayahnya lah ia mendapatkan rasa nyaman dan kehangatan yang ia inginkan. Dari keluarga kecil ayahnya inilah ia bisa berbahagia. Di umur ke 26 tahunnya, ia bisa merasakn cinta dan kasih sayang dari orang lain yang akan menjadi suaminya kelak. Walau beberapa waktu ia masih memikirkan ibu kandungnya, memikirkan apakah ibunya bahagia dengan kepergiannya?